Minggu, 10 Januari 2010

Amblesnya Drilling Rig dan Tenggelamnya Kapal Pemboran

Amblesnya Drilling Rig dan Tenggelamnya Kapal Pemboran

Mungkin ada yg bertanya-tanya bagaiman sebuah drilling rig amblas masuk kedalam bumi. Padahal sepertinya kaki-kaki drilling rig tsb sudah menaRata Tengahpak kuat pada tiang pancang dsb. Berikut foto-foto yg saya peroleh dari milist Migas-Indonesia (trims Mas Budi). Sekalian saya berikan sedikit penjelasan grafis bagaimana hal ini bisa terjadi.

Proses pengeboran diawali dengan mengebor bagian atas, “upacara” ini sering disebut dengan Spud atau Tajak. Pada saat tajak ini tentunya proses pengeboran masih sangat awal. Karena biasanya batuan paling atas itu seringkali tidak begitu keras, karena lapisan muda atau karena berupa batu yg sudah lapuk. Sehingga seringkali BOP belum dipasang. Dan casing atau selubung yang sudah dipasang-pun seringkali tidak disemen.

Dengan keterbatasan konstruksi sumur pada waktu awal ini tentusaja ada risiko-risiko yg harus ditanggung, misalnya gas-gas dangkal (shallow gas).

Berikut sebuah seri foto-foto tersebut. Tidak ada informasi lokasi pengeborannya tetapi kalau dilihat tanggalnya peristiwa ini terjadi bulan February 2006.





Foto 1. Tanggal 16 Februari 2006.
Disini memperlihatkan bahwa anjungan yang sudah ambruk. Terlihat drillfloor (lantai pengeboran) yg relatif bersih, saya rasa tidak terjadi semburan lumpur keatas. Tidak ada lumpur yang menyembur seperti yang terjadi di Banjarpanji-1 Sidoarjo



Foto 2. tanggal 18 Februari 2006. Gambar ini menunjukkan kepala sumur (well head) yg masih utuh. Sepertinya memang tidak ada yg menyembur melalui lubang sumur itu sendiri. Mirip seperti di Sidoarjo dimana kepala sumurnya sendiri aman, namun terjadi semburan diluar lubang sumur.



Foto 3. Tanggal 19 Februari 2006. Drillfloor sudah tidak terlihat lagi, terlihat menaranya sudah ambruk dan sangat kotor. Diperkirakan terjadi semburan lumpur (air bercampur tanah).



Foto 4 dan 5. Hampir semua peralatan pengeboran amblas tenggelam kedalam tanah. Hanya terlihat kepala sumur yg sekarang sudah sangat kotor akibat semburan lumpur. Biasanya lokasi ini akan selalu ditutup karena membahayakan.

Mengapa “Drilling Rig”nya bisa ambles ?

Karena adanya semburan lewat kiri kanan lubang sumur, biasanya melewati ruang annulus (ruang antara dinding sumur dengan casing). Seperti yg disebut diatas karena masih dangkal ruang ini tidak disemen dan menjadikan ruang paling rawan dan paling lemah menahan tekanan. seburan dari bawah tidak dapat masuk ke lubang sumur akibat adanya lumpur pemboran.

Semburan yg berlangsung terus menerus ini akan mempengaruhi daya dukung tanah (bearing capacity). Karena daya dukungnya berkurang ini yang menyebabkan rig amblas tenggelam. Tanah dibawah karena bercampur dengan gas dan juga air, maka kan berubah menjadi lumpur yang sangat lunak.

Peristiwa amblesnya rig ini hanya berlangsung dalam 3-5 hari saja. Sehingga cukup cepat terjadinya. Mungkin bisa dibayangkan bahwa Drilling Rig yg dipergunakan mengebor sumur Banjarpanji-1 tentunya juga ketakutan mengalami hal ini. Sehingga terburu-buru dipindahkan. Tentunya harus disadari bahwa kehilangan perangkat pemboran (drilling rig) sudah merupakan bagian dari risiko mencari minyak.

Apabila kejadiannya si Laut, kejadian bahaya akan tenggelamnya fasilitas pemboran termasuk Drill Ship. Drill Ship (anjungan pengeboran dalam sebuah kapal) juga sangat mungkin tenggelam akibat semburan liar ini. Drillship adalah anjungan pengeboran sumur dalam (Deepwater Drilling Rig). Seperti yg terlihat dibawah ini sebuah Rig yg tenggelam akibat semburan gas.

Akibat adanya gas yg tercampur dengan air maka densitas dari air akan jauh berkurang. Dan kalau anda masih ingat hukum Arhimedes maka daya angkat air ini menjadi hilang atau berkurang akibat campuran gas. Arhimedes bilang bahwa daya angkat akan berbanding lurus atau sebanding dengan masaa benda cair yg dipindahkan. Massa ini tergantung dari berat jenisnya. Nah kalau air dicampur gas tentunya berat jenisnya sangat kecil dan daya angkatnya juga kecil. Hilangnya daya angkat inilah yg menyebabkan sebuah Drillship juga dapat tenggelam akibat semburan liar.









http://www.infogue.com/viewstory/2008/10/15/amblesnya_drilling_rig_dan_tenggelamnya_kapal_pemboran/?url=http://rovicky.wordpress.com/2006/09/16/amblesnya-drilling-rig-dan-tenggelamnya-kapal-pemboran/#comment-21792

Seismik Tiga Dimensi dalam Ekplorasi Energi Geothermal

Seismik Tiga Dimensi dalam Ekplorasi Energi Geothermal
Leave a reply »

Sumber energi alternatif untuk menggantikan minyak bumi terus dicari. Energi geothermal atau panas bumi dianggap berpotensi cukup besar. Namun pemboran sumber geothermal amat sulit dan beresiko tinggi.


Jerman merupakan salah satu negara terkemuka di bidang teknologi untuk eksplorasi dan eksploitasi energi alternatif ini. Sumber panas bumi tersebar dalam kawasan cukup luas dan tidak akan habis dieksploitasi. Hanya saja muncul masalah, pemboran sumber geothermal amat sulit dan berrisiko tinggi karena morfologi di bawah permukaan sulit dikenali. Kini Jerman sedang mengembangkan metode pencitraan seismik tiga dimensi untuk mengetahui morfologi di perut bumi lebih akurat lagi.

Sebuah kendaraan khusus berwarna putih dengan panjang 10 meter dan dilengkapi ban berukuran raksasa bergerak perlahan diikuti konvoi sejumlah pekerja. Kendaraan khusus

itu setiap jarak 30 meter berhenti untuk menumbukkan peralatan hidraulik, menciptakan gempa bumi mikro. Setiap kali berhenti, peralatan hidraulik menciptakan gempa mikro sebanyak delapan kali.


Selama empat minggu konvoi kendaraan pembuat gempa seismik mikro itu bertugas di kawasan Ottobrun dekat München. Di kawasan seluas 20 kilometer persegi, pada ribuan titik di permukaan tanah dibuat rekayasa gempa seismik mikro. Tujuannya adalah untuk mengukur morfologi kawasan Karst Malm di antara sungai Donau dan pinggiran pegunungan Alpina. Karst adalah formasi morfologi atau topografi yang terbentuk di permukaan atau di perut bumi akibat tergerusnya batuan kapuran oleh air yang mengandung asam. Kawasan antara Donau dan pinggiran Alpina merupakan sumber geothermal terpenting di negara bagian Bayern.


Metode pengukuran dengan cara seismik yang dilakukan saat ini jauh lebih akurat dibanding metode yang dikembangkan sebelumnya. Pakar geofisika dari Institut Leibniz untuk geofisika terapan di Hannover, Dr. Ewald Lüschen menjelaskan, “Kami mencoba meneliti formasi Karst Malm, yang memiliki kedalaman antara 3200 sampai 3800 meter, serinci mungkin dalam bentuk tiga dimensi. Karst Malm mengandung air dengan suhu kira-kira 130 derajat Celsius, dan merupakan sumber penting bagi energi geothermal.“


Untuk meneropong bagaimana morfologi di kedalaman lebih dari tiga kilometer itu, para ilmuwan memanfaatkan apa yang disebut metode seismik tiga dimensi. Prinsipnya mirip echolot, yakni penala gelombang suara pada kelelawar, yang juga mampu memberikan gambaran tiga dimensi. Gelombang tekanan yang dibangkitkan kendaraan khusus itu pada lapisan tanah akan dipantulkan oleh lapisan batuan yang berbeda-beda di bawah permukaan bumi. Pantulannya akan dikembalikan ke permukaan bumi beberapa saat kemudian.


Di beberapa lokasi di permukaan bumi peralatan penala getaran khusus yang amat peka, yang disebut geophone, mengukur gelombang pantulan getaran mikro tersebut. Dengan mengukur, berapa lama rambatan gelombangnya akan dapat diketahui, pada kedalaman berapa posisi lapisan-lapisan batuan bersangkutan. Akan tetapi untuk membuat sebuah gambaran tiga dimensi dari morfologi di bawah permukaan bumi, harus dilakukan pengukuran serempak oleh penala khusus tersebut.


Pengukurannya benar-benar merupakana tugas berat. Di kawasan potensi geothermal seluas empat kali lima kilometer itu dibagi menjadi 2.900 lokasi gempa mikro. Di setiap lokasi getaran dipasang selusin geophone ukuran kecil.“Kami memasang jalur geophone dalam jarak 300 meter, sepanjang jalur ini setiap 30 meter dibangun sebuah stasiun geophone,“ jelas Waldemar Lukas, pimpinan tim pengukuran getaran seismik dari perusahaan DMT Essen.


Semua data yang ditangkap stasiun geophone itu, disalurkan ke sebuah kendaraan yang menghimpin secara terpusat semua data hasil pengukuran. Rekam data yang dikumpulkan dari berbagai stasiun pengukuran geophone itu bagi orang awam samasekali tidak menarik. Citranya jika dicetak hanya menunjukkan gambaran garis-garis terang dan gelap yang silih berganti. Dalam beberapa bulan mendatang, para peneliti dari Institut Leibniz untuk geofisika terapan di Hannover akan terus mengolah data ini menggunakan bantuan komputer. Hasil akhirnya adalah citra tiga dimensi morfologi di kawasan penelitian pada kedalaman sekitar 3000 meter di bawah permukaan bumi.


Dalam citra komputer itu, kemudian juga akan ditambahkan data hasil penelitian lainnya, misalnya bagaimana sifat sumber geothermal berupa aliran air panas di bawah permukaan bumi itu? Dengan memanfaatkan citra tiga dimensi morfologi di bawah permukaan bumi itu, para insinyur juga dapat menghitung efektivitas pembangkitan energinya. Juga dapat dihitung, berapa jarak optimal antar lubang pemboran, agar sumber panas bumi itu dapat dimanfaatkan secara intensif.


Dr.Ewald Lüschen menggambarkan metode pengukurannya, “Jika kita memompa air ke dalam lubang bor, tapi tidak dapat menangkap panas secukupnya ketika kita memompanya lagi keluar, berarti tingkat ekonomisnya rendah.“


Untuk mencegah terjadinya inefisiensi semacam itu, citra morfologi di bawah permukaan dalam bentuk tiga dimensi akan memainkan peranan amat besar. Saat ini di Jerman sedang dilakukan penelitian potensi panas bumi di 10 lokasi. Di sebagian lokasi, bahkan sudah dilakukan pembangunan pembangkit energi panas bumi. Seluruhnya di Jerman sudah 26 lokasi pembangkit energi panas bumi yang dioperasikan dengan kapasitas keseluruhan sekitar 128 megawatt. Selain membangkitkan listrik, energi geothermal ini dimanfaatkan untuk pemanasan rumah-rumah pada saat musim dingin.


http://latep.students-blog.undip.ac.id/2009/11/04/seismik-tiga-dimensi-dalam-ekplorasi-energi-geothermal/

Pertambangan Mineral di Indonesia Prospektif

MINERAL

Pertambangan Mineral di Indonesia Prospektif

Mempertimbangkan kekayaan bahan tambang di Indonesia seperti emas, perak, nikel, tembaga dan bahan tambang lainnya, dan dengan upah tenaga kerja murah serta letak geografi yang dekat dengan pasar, membuat pertambangan mineral di Indonesia sangat prospektif. Investasi asing diperlukan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja dan mengurangi jumlah penduduk miskin, demikian menurut Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association, Priyo Pribadi Soemarno dalam acara “Indonesia Mining Session” di Vancouver, Kanada, beberapa pekan lalu.

Tampil pula sebagai pembicara dalam acara tersebut, Konjen RI di Vancouver, Jhon Proust (CEO, Southern Arc Minerals), Thomas Mulja (Country Manager Indonesia, East Asia Minerals), Ramon Yazon (Komisaris Perdagangan dari Kedutaan Besar Kanada di Manila), dan kalangan pengusaha.

Kegiatan pertambangan ilegal, peraturan pajak yang dinilai kurang supportive serta lemahnya kordinasi antara pusat dan daerah merupakan sebagian masalah yang dihadapi industri pertambangan, kondisi seperti ini menyebabkan arus investasi yang masuk ke Indonesia kurang optimal.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki iklim investasi dengan menyederhanakan proses perijinan, transparansi, keringanan pajak, penegakan hukum dan pemantapan situasi keamanan.

Perbaikan iklim investasi yang dilakukan oleh pemerintah, ditanggapi positif beberapa kalangan pengusaha yang hadir dalam acara tersebut. Perbaikan yang dilakukan pemerintah Indonesia akan memulihkan iklim investasi. Apabila best practice dalam industri dan investasi diterapkan bukan mustahil akan menempatkan posisi Indonesia menjadi yang pertama dari delapan negara yang dinilai favourable terhadap investasi asing.


http://www.esdm.go.id/berita/mineral/43-mineral/1609-pertambangan-mineral-di-indonesia-prospektif.html

Keppel Fels dan PV Nama Pemboran Twin RIGS

Keppel Fels dan PV Nama Pemboran Twin RIGS



Untuk pertama kalinya dalam sejarah rig, dua rig jackup identik telah dinamai bersama-sama oleh Keppel Fels Limited (Keppel Fels) dan PetroVietnam pelanggan Bor & Well Services Corp (PV Drilling).

Penamaan dari si kembar, PV PV Drilling Pemboran II dan III, disaksikan oleh Menteri Senior Negara (SMS) untuk Perdagangan & Industri dan Pendidikan, Mr S Iswaran di Keppel Fels hari ini. Kedua rig ini dibangun untuk milik Keppel Kelas B KFELS desain, yang merupakan pilihan cerdas rig pengeboran untuk operator di seluruh dunia.

Baik di jalur untuk pengiriman awal tahun ini, PV PV Drilling Pemboran II dan III, akan menambah hitungan saat ini KFELS B Kelas 28 unit yang telah memasuki pasar luar negeri global sejak tahun 2000.

SMS Iswaran berkata, "penyelesaian awal dan pengiriman PV Drilling II dan III lain menandai tonggak penting dalam memperdalam hubungan antara kedua negara. Ini akan menempatkan klaster maritim Singapura di manfaat yang baik untuk mendukung pertumbuhan Vietnam sektor minyak dan gas.

"Hari ini penamaan dari kembar rig sekali lagi menggarisbawahi kekuatan dan kemampuan Keppel dan Singapura lepas pantai laut dan industri. Galangan kapal kami telah lama membangun reputasi yang kuat kualitas dan ketepatan waktu. Mereka juga menjadi terkenal karena kemampuan mereka untuk menawarkan layanan khusus dan menangani proyek-proyek canggih. "

Diperkirakan bahwa akan ada 900 sumur eksplorasi di Vietnam selama 15 tahun ke depan. Untuk memenuhi jadwal yang ketat eksplorasi, PV Bor berniat membuat investasi modal sekitar $ 1.7b dari sekarang sampai 2025 untuk membangun dan mengoperasikan sebuah 11-kuat armada rig lepas pantai dan daratan.

Mr Do Van Khanh, CEO PV Drilling dan Ketua PVD Invest berkata, "Kami ingin memposisikan diri untuk menangkap Vietnam yang pertumbuhan pasar untuk minyak dan gas jasa dengan dukungan yang kuat dan dapat diandalkan galangan kapal yang dapat memberikan proyek-proyek tepat waktu, anggaran dan tanpa insiden.

"Kami sangat senang dengan kerja yang sangat baik telah dilakukan Keppel Fels di PV PV Drilling Pemboran II dan III. Setelah bekerja dengan mereka di beberapa proyek penting, kami yakin bahwa mereka adalah orang-orang terbaik untuk membantu kami membangun armada rig yang sangat khusus. "

Mr Tong Chong Heong, CEO Keppel Offshore & Marine (Keppel O & M), mengatakan, "Kami sangat antusias untuk menandai Keppel dan Vietnam's seperempat abad kemitraan dengan penamaan historis dua rig untuk jackup PV Drilling.

"Tingkat efisiensi teknik dan konstruksi telah dicapai pada rig kembar karena kita pengalaman yang kaya dalam membangun KFELS ulangi jackups Kelas B, dan kerja tim yang sangat baik dengan pelanggan kami. Kami terhormat bahwa PV Bor Fels Keppel telah memilih waktu dan lagi untuk proyek-proyek bersejarah mereka. "

Kelas B yang KFELS rig adalah dapat beroperasi di kedalaman air dari 400 ft dengan kedalaman pengeboran Multifungsi dari 30.000 ft PV Drilling III telah ditingkatkan lebih lanjut dengan fitur seperti mesin yang memenuhi standar emisi yang lebih ketat dan kentang lebih rendah dapat bantalan tekanan untuk operasi di daerah dengan kondisi tanah lunak.

Dirancang untuk uptime maksimum dengan pengurangan emisi dan pembuangan, yang KFELS B Class rig baru-baru ini memenangkan penghargaan bergengsi Engineering Achievement Award 2009 dari Institution of Engineers Singapura untuk fitur-fitur ramah lingkungan.

Keppel Fels telah terlibat dalam pasar lepas pantai Vietnam selama 25 tahun telah menyelesaikan Hoang Sa, yang 1.200 ton derek mengambang pada tahun 1984 dan Vietnam rig jackup pertama, si Tam Dao I pada 1988. Baru-baru ini, pada tahun 2007, itu pertama disampaikan Vietnam KFELS Kelas B jackup, PV Drilling saya, lebih cepat dari jadwal dan anggaran untuk PV Drilling.

http://sites.google.com/site/pelautgroup/berita-pelaut

REALISASI KEGIATAN USAHA HULU MIGAS 2006

REALISASI KEGIATAN USAHA HULU MIGAS 2006


2. Kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi


Kegiatan Eksplorasi
Kegiatan eksplorasi meliputi studi geologi dan geofisika, survei seismik, dan pemboran eksplorasi. Kegiatan ini merupakan upaya untuk menemukan cadangan baru migas baik di wilayah kerja yang sudah berproduksi maupun di wilayah kerja yang belum berproduksi.

Sepanjang tahun 2006 telah dilakukan survei seismik 2D sepanjang 10.692 km atau 66% dari yang direncanakan. Sebagian besar survei yakni sepanjang 7.513 km dilakukan di wilayah kerja yang belum berproduksi. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi geologi pada wilayah kerja yang belum berproduksi masih cukup atraktif bagi investor. Disamping itu juga telah dilaksanakan survei seismik 3D seluas 2.374 km2 atau 31% dari rencana awal. Realisasi survei seismik 3D lebih banyak dilakukan di wilayah kerja produksi, yaitu seluas 1.320 km2, yang berarti menunjukkan adanya peningkatan aktivitas pengembangan lapangan baru.

Pada tahun 2006 juga ada komitmen eksplorasi dari investor baru senilai US$ 351,1 juta yang akan direalisasi pada tahun-tahun mendatang. Dana sebesar itu akan digunakan untuk membiayai studi geologi dan geofisika, survei seismik, dan pemboran sumur eksplorasi.
Kendala utama kegiatan survei seismik adalah sulitnya memperoleh kapal seismik akibat meningkatnya permintaan pada saat harga minyak tinggi, masalah membebaskan lahan untuk lintasan seismik dan panjangnya proses perijinan (untuk penggunaan bahan peledak dan ijin lokasi) serta masalah pendanaan pada investor baru nasional.

Grafik 1
Perkembangan Rencana vs Realisasi Seismik 2D dan 3 D


Pada tahun 2006 juga telah dilakukan pemboran eksplorasi sebanyak 82 sumur (58 sumur wildcat dan 24 sumur deliniasi) atau 47% dari rencana pemboran tahun 2006. Pemboran eksplorasi lebih banyak dilakukan di wilayah kerja produksi, yaitu sebanyak 58 sumur. Bila dibandingkan dengan jumlah pemboran sumur eksplorasi tahun 2005 sebanyak 56 sumur, maka terjadi peningkatan pemboran eksplorasi sebesar 46%. Realisasi tahun 2006 ini merupakan yang tertinggi dalam 5 (lima) tahun terakhir.
Grafik 2
Perkembangan Realisasi Pemboran Sumur Eksplorasi



Terdapat beberapa hal yang menjadi kendala untuk merealisasikan kegiatan eksplorasi, yakni (a) sulitnya memperoleh kontrak rig pemboran yang sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan, (b) banyaknya masalah subsurface selama pemboran sehingga menambah waktu hari kerja pemboran, (c) faktor cuaca yang menyebabkan kegiatan terhambat, (d) beberapa investor baru tidak mempunyai cukup dana dan masih mencari partner bisnis, dan (e) munculnya berbagai masalah di seputar pembebasan lahan dan tumpang tindih lahan antara lain dengan kehutanan dan perkebunan.

Penemuan cadangan minyak dan gas bumi baru hasil eksplorasi pada tahun 2006 adalah 1,23 miliar barel minyak dan 1,37 triliun kaki kubik gas atau total setara 1,47 miliar barel minyak, di mana sebagian besar (984 juta barel setara minyak) ditemukan di wilayah kerja yang belum berproduksi. Total penemuan cadangan migas pada tahun ini lebih besar dari jumlah yang diproduksikan (871 juta barel setara minyak).
Dari 31 Kontraktor KKS yang mempunyai komitmen pasti (firm commitment) sesuai dengan KKS, tercatat 16 kontraktor telah memenuhi komitmen eksplorasi di tahun 2006 sedangkan 15 sisanya belum memenuhi komitmen. Kontraktor KKS yang tidak memenuhi komitmen eksplorasi tersebut pada umumnya merupakan perusahaan baru yang kebanyakan juga mengalami kesulitan dalam pendanaan.
Grafik 3.
Rencana dan Realisasi Pemboran
Sumur Ekplorasi dan Eksploitasi Tahun 2006




Kegiatan Eksploitasi
Terdapat 47 lapangan minyak dan gas baru yang mulai diproduksikan pada tahun 2006, di mana 24 lapangan merupakan lapangan minyak, 6 (enam) lapangan gas dan sisanya adalah lapangan minyak dan gas. Kapasitas produksi dari lapangan baru ini diperkirakan mencapai 69 ribu barel minyak per hari dan 172 juta kaki kubik gas per hari.

Untuk menambah produksi minyak dan gas baru di tahun-tahun mendatang, dalam tahun 2006 dilakukan pengembangan 19 lapangan minyak dan gas bumi baru, yang terdiri dari 4 (empat) lapangan minyak dan 4 (empat) lapangan gas serta sisanya merupakan lapangan minyak dan gas. Di samping itu juga telah disetujui 32 rencana pengembangan lapangan baru (PoD - Plan of Development) yang pelaksanaan pembangunannya dimulai pada tahun 2006 dan 2007.

Selama tahun 2006 telah dilakukan kegiatan pemboran pada 609 sumur pengembangan (eksploitasi) atau 79% dari yang direncanakan. Dibandingkan tahun 2005, jumlah pemboran sumur pengembangan meningkat 9%.

Kendala yang dihadapi kegiatan eksploitasi adalah sulitnya mendapatkan rig pemboran, pembebasan tanah, tumpang tindih lahan, dan masalah subsurface saat melakukan pemboran serta banjir pada lokasi-lokasi pemboran.

Investasi
Selama tahun 2006 pengeluaran yang dibelanjakan untuk kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi di Indonesia berjumlah US$ 9,71 miliar, di mana sebagian besar pengeluaran (US$ 7,99 miliar) untuk wilayah kerja yang sudah produksi. Peningkatan pengeluaran pada wilayah kerja produksi terutama diakibatkan oleh adanya pengembangan lapangan-lapangan minyak dan gas bumi baru. Sedangkan kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi yang dilakukan pada wilayah kerja yang belum produksi pada tahun tersebut tercatat sebesar US$ 1,72 miliar atau naik 47% dari tahun 2005. Peningkatan nilai investasi ini memberikan arti penting bagi kelangsungan produksi ataupun peningkatan cadangan minyak dan gas bumi di masa yang akan datang.

Tabel 1: Pengeluaran Biaya Kegiatan Usaha Hulu Migas (Juta US$)


Selama 5 (lima) tahun terakhir terjadi peningkatan pengeluaran terutama karena peningkatan kegiatan eksplorasi dan banyaknya lapangan minyak dan gas bumi baru yang dikembangkan. Selama kurun waktu ini terjadi peningkatan investasi rata-rata sebesar 41% per tahun. Peningkatan ini menunjukkan kondisi geologi Indonesia masih prospektif, iklim investasi cukup baik sehingga mendorong investasi baru, selain juga didorong oleh naiknya harga minyak dunia.


Tabel 2
Perkembangan Realisasi Nilai Investasi 2000 – 2006 (US$ Juta)


Namun demikian masih diperlukan perbaikan iklim usaha agar Indonesia memenangkan persaingan dalam menarik investor mengingat persaingan menarik investor semakin ketat antara satu negara dengan negara lain. Persoalan-persoalan yang bisa menurunkan daya saing seperti masalah tumpang tindih lahan, kepastian hukum, hambatan birokrasi, pengaruh negatif dari otonomi daerah dan lain sebagainya segera diatasi.

http://www.bpmigas.com/DOKUMEN/LAPORAN-BPMIGAS/2007/BAB1-2.htm

Pertamina Area Rantau Tajak RNT SL-1

Pertamina Area Rantau Tajak RNT SL-1
PT Pertamina EP Area Rantau pada awal Juni yang lalu melakukan penajakan RNT SL-1 yang berada di desa Alur Manis Kecamatan Rantau Kabupaten Aceh Tamiang, sekitar 10 km arah Timur kota Kuala Simpang. Kegiatan tersebut merupakan penajakan perdana untuk RK (Rencana Kerja) 2006.
Lokasi RNT SL-1 ini ditajak dengan menggunakan Rig Cardwell KT-210 B No. 2A milik PDSI (Pertamina Drilling Service) yang berkapasitas 400 HP hingga mencapai rencana kedalaman akhir 650 m dari lantai bor selama 12 (dua belas) hari kerja operasional serta dua hari kerja penyelesaian sumur, menembus formasi Seureula dan Keutapang Atas.
Tujuan dari pemboran ini adalah menambah titik serap dan meningkatkan Recovery produksi minyak lapisan dangkal di blok D Struktur Rantau secara vertikal. Target utama pemboran adalah formasi Keutapang Bawah dari lapisan Sand di Zone-400, zone 600, zone 560 dan zone 290.
Manajer Area Rantau Hendra Jaya dalam sambutannya menghimbau kepada pekerja dan crew yang terlibat selama proses pemboran berlangsung, untuk tetap berpegang pada kaidah-kaidah perminyakan yang ada, menerapkan manajemen lingkungan yang baik serta mengutamakan keselamatan & kesehatan kerja.
Sementara Project officer Erwin Bustami mengungkapkan, pemboran sumur RNT SL-1, ditajak pada 11 Juni 2006 pada pukul 06.00 sebagai sumur P-389 dan diharap mampu menjadi catatan tersendiri bagi Area Rantau dalam mengangkat cadangan hidrokarbon yang cukup signifikan, sekaligus menambah jumlah cadangan struktur?struktur potensial termasuk pengembangan lapangan, fasilitas produksi dan infrastruktur lainnya. Akhirnya bermuara pada peningkatan keekonomian, aktifitas sosial termasuk pemberdayaan masyarakat dan kemitraan di sekitar daerah operasi perusahaan.
Dalam kesempatan tersebut dilakukan penyerahan santunan terhadap anak yatim dan kaum dhuafa yang tinggal di sekitar lokasi penajakan sumur.
Turut hadir mendampingi Manajer Area Rantau antara lain Tim Manajemen Area Rantau, Camat Kecamatan Rantau dan Kepala Desa Alur Cucur.

http://www.pertamina.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2709&Itemid=593

Transformasi Pertamina Hulu dan PEP

Transformasi Pertamina Hulu dan PEP
?Transformasi korporasi bisnis hulu PT Pertamina (Persero) dibagi dalam 3 periode, yaitu Restrukturisasi Korporasi, Optimalisasi Profit, dan Pencapaian Standard Dunia,? demikan ungkap Deputi Direktur Pengembangan Usaha Direktorat Hulu Tri Siwindono dalam satu perbincangan di Ruang Kerjanya, Rabu (26/7).

Tri menambahkan timeframe ketiga periode tersebut adalah, pertama Restrukturisasi Korporasi berlangsung dari 2006 - 2008; kedua Optimalisasi Profit diharapkan mulai dicapai dari 2009-2011; dan predikat perusahaan Standard Dunia akan diraih pada 2012 - 2014. ?Road Map proses transformasi Pertamina Hulu diawali dengan Restrukturisasi Korporasi pada 2006-2008 yang meliputi reposisi peran Pertamina Hulu, Corporate Strategy Formulation, Asset Management, Foundamental Corporate Culture, dan penegakan Good Corporate Governance,? imbuh Tri.

Untuk periode berikutnya yakni optimalisasi profit pada 2009- 2011akan diformulasikan kegiatan yang tersegmentasi sesuai jenis aktivitasnya, seperti pertama, Bidang Hulu (upstream) kegiatan operasi Migas meliputi reaktifasi dan monetisasi aset; optimasi & kenaikan produksi, efisiensi biaya, standarisasi kelas dunia yang keseluruhan aktivitas ini disebut langkah pertama Quality. Langkah ini disinergikan dengan langkah yaitu pertumbuhan yang terdiri dari kegiatan-kegiatan aktifasi dan optimasi lahan eksplorasi, eksplorasi lahan & prospek terfokus, percepatan proses siklus eksplorasi ? produksi, ekspansi di luar lahan tradisional dalam dan luar negri. Kedua, Aktivitas Bidang?Midstream Migas, mencakup penataan anak perusahaan yang bergerak di bisnis gas berupa transportasi dan niaga gas seperti PT Pertagas, memformulasi konsep korporasi, business plan, dan aset. Ketiga, Bidang Panas Bumi, meliputi penataan anak perusahan yang bergerak dalam bisnis panasbumi seperti PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), memformulasi konsep korporasi dan aset. Keempat, Bidang Coal Bed Methane, Bio Fuel (Hulu). Dan kelima, services meliputi restrukturisasi, revitalisasi, dan optimalisasi aset Rig pemboran.

http://www.pertamina.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2728&Itemid=593