Tampilkan postingan dengan label Migas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Migas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Januari 2010

Alat Pertambangan - Alat Geologi - Tester - Laser Level






Alat Pertambangan - Alat Geologi - Tester - Laser Level
Compas Brunton 5006








Brunton International Pocket Transit 5006



Palu Geologi Estwing Pipih


Palu Geologi Estwing Pipih with Nylon Vinyl Shock Reduction Grip®
Neolaser NL-218



Laser Level Neolaser NL-4X4V1H LASER MARKER
Compas Geologi Brunton 5008




Brunton 5008 Com-Pro International Transit
Palu Estwing Geologi Runcing

http://www.buanasurvey.com/

Alat – alat pemboran

Alat – alat pemboran

Drilling string atau sering disebut rangkaian pemboran adalah serangkaian peralatan yang disususn sedemikian rupa, sehingga merupakan batang bor, seluruh peralatan ini mempunyai lubang dibagian dalamnya yang memungkinkan untuk melakukan sirkulasi fluida atau mud.
Bagian ujung terbawah dari rangkaian pemboran adalah pahat bor atau bit yang gunanya untuk mengorek atau menggerus batuan, sehingga lubang bor bertambah dalam.
Diatas pahat bor disambung dengan beberapa buah drill colar, yaitu pipa penyambung terdalam susunan rangkaian pemboran, untuk memungkinkan pencapain kedalaman tertentu, makin dalam lubang bor makin banyak jumlah drill pipe yang dibutuhkan.
Diatas drill pipe disambung dengan pipa kelly, yang bertugas meneruskan gerakan dari rotary table untuk memutar seluruh rangkaian pemboran.
Diatas kelly disambung dengan swivel yaitu sebuah alat yang berfungsi sebagai tempat perpindahan gerakan putar dan gerakan diam dari system sirkulasi , fluida pemboran melalui pipa bertekanan tinggi, bagian atas dari kelly ada bail untuk dikaitkan ke HOOk supaya memungkinkan turun seluruh rangkaian pemboran.

Peralatan – peralatan lain yang melengkapi susunan rangkaian pemboran :
Bit sub
adalah sub penyambung antara pahat dengan drill colar
Float sub
adalah sub penyambung yang dipsang bit sub dan drill colar, berfungsi untuk menutup semburan /tekanan formasi kedalam rangkaian pemboran secara otomatis.
Stabilizer
adalah alat yang dipasang pada susun drill colar, yang berfungsi untuk menstabilkan arah lubang bor dan mengurangi kemungkinan terjepitnya rangkaian pemboran yang diakibatkan oleh diferensial pressure.
Kelly saver sub,
adalah alat yang dipasang dibagian ujung bawah kelly, berfungsi untuk melindungi ulir kelly agar tidak cepat ruksak.
Lower kelly cock
adalah alat yang dipasang antara kelly dan kelly saver sub, befungsi untuk alat penutup semburan /tekanan dari dalam pipa pada saat posisi kelly diatas Rotary Table.
Upper Kely cock
adalah alat yang dipasang diantara kelly dan swivel, berfunsi untuk menutup semburan/tekanan dari dalam pipa saat kelly down.

Dunia Masih Kekurangan Pekerja Perminyakan

Dunia Masih Kekurangan Pekerja Perminyakan

Kemarin sudah saya tuliskan bagaimana dunia saat ini sedang merana karena kondisi perekonomian yang “modal bin madul” alias “amburadul“. Silahkan baca : Harga minyak dan pasaran kerja tahun 2009. Harga minyak yang anjlok sepertiga dari harga sebelumnya membuat industri perminyakan kalang-kabut.
Bagaimana dengan ahli geologinya ?AAPG Explorer (ed. Januari 2009), sebuah majalah terbitan perkumpulan ahli geologi Amerika yang anggotanya sudah mendunia ini memberikan laporan kondisi lapangan kerja geosains. Artikel ini memberikan pandangan kondisi pasaran kerja untuk geoscience di perminyakan yang masih mengalami kesulitan yang unik.
Jumlah pekerjanya yang berpengalaman sangat kurang.
“Whaduh Pakdhe laris niih ?”
“Bukan itu yg perlu tahu thole, tetapi apakah ini hanya geoscience di perminyakan saja atau juga disiplin ilmu lain atau bahkan seluruh industri pada umumnya ?”
Kekurangan pekerja berpengalaman.





Gambar diatas dibuat tahun 2006. Dipublikasian ulang dalam Majalah Explorer edisi Januari 2009. Grafik diatas menunjukkan jumlah pekerja sesuai dengan usianya. Gambar itu menunjukkan bahwa banyak pekerja yang berpengalaman diatas 20tahun, tetapi langka pekerja yang berpengalaman dibawah 20 tahun. Kalau saja pekerja itu dimulai dari 20 tahun, bila usia pensiun itu tertinggi hanya 65, tentusaja akan lebih dari 50% yang pensiun tahun 2010.
Problem kelangkaan ini tidak hanya menghawatirkan satu perusahaan tetapi hampir seluruh industri perminyakan akan mengalaminya. Untuk mengatasi hal itu penarikan tenaga kerjapun masih terus harus dilakukan. Menurut perkiraan proses rekruitment ini masih akan terus diperlukan hingga tahun 2010.
“Wuiih lumayaaan, masih ada ‘hiring’ hingga 2010. Tapi abis itu gimana doonk ?”
Geoscientist itu unik
Masih berlangsungnya pengambilan tenaga kerja baru (hiring) ini juga diamati oleh David Brown, AAPG-Explorer correspondent yang dituliskannya juga bulan Januari 2009 disini. Dalam artikelnya David mengutip pendapat konsultan HR-nya wordlwideworker :
“Drilling has slowed down but G&G -the geologists and geophysicists, geoscience professionals – is in quite high demand,” said Anna Shchelokova, senior HR consultant for Worldwideworker.com in Houston.
Aktifitas drilling memang merupakan aktifitas operasi sedangkan geologist dan geophysicist merupakan pekerja peneliti semacam “research“. Disinilah bedanya. Dan inilah yang menyebabkan mengapa geosciencetist itu tidak bisa disamakan dengan tenaga profesional lain di dunia perminyakan. Geoscientoist itu tidak dapat dilakukan substitusi (pergantian) dari tenaga berprofesi komputasi.
Berbeda dengan drilling engineer yang dapat disubstitusi dari sarjana mesin, sarjana teknik listrik, bahkan ada salah satu drilling engineer Unocal (skarang Chevron) yang berasal dari sarjana kimia. Demikian juga proccess engineer yang bisa di-substitusi dari sarjana atau tenaga-tenagan insinyur bidang lainnya (misal sarjana elektro, mesin, kimia dsb).
Dimana saja yang kekurangan dan kelebihan geoscientist ?





Cukup aneh kalau Indonesia masuk kategori kelebihan Geoscientist. Banyak perusahaan minyak di Indonesia yang berteriak-teriak kekurangan tenaga geologi. Namun barangkali yang terjadi adalah banyaknya “Geoscientist WN Indonesia” yang saat ini sudah bekerja di negeri-negeri yang kekurangan tenaga geologi. Yang tergambar diatas itu barangkali jumlah geoscience sesuai dengan kewarga negaraannya. Termasuk didalamnya India termasuk “dianggap” kelebihan geoscientist.
Atau memang barangkali secara global saat ini kekurangan geoscientist, hanya Indonesia termasuk “penghasil” geoscientist yang memiliki peluang untuk mengisi lowongan.
Great Crew Change
Bagaimana dengan jenis profesi selain geosains ?Di Industri perminyakan dikenal istilah “crew change“, pergantian kru. Pekerja migas banyak yang bekerja di daerah terpencil (remote area) selama 2 minggu dan seminggu berikutnya dirumah (off). Jadwalnya ada yang dikela 2-1, ada yang 2-2 dsb. Pergantian pekerja yang akan bekerja dan akan kembali istirahat ini disebut crew-change.
Dalam konferensi dunia ahli pengeboran (IADC) – Int’l Deepwater Drilling Conference di Rio de Janeiro, Brazil pada bulan Maret 2008 muncul istilah “Great Crew Change“. Yaitu pergantian pekerja tua ke pekerja muda. Hal ini jelas disebabkan karena secara demografi pekerja-pekerja usia lanjut sudah tidak akan mampu lagi mengisi atau mengerjakan pekerjaannya lagi. Namun dalam konferensi itu yang menjadi kekhawatiran adalah adanya gap yang cukup lebar antara pekerja senior dengan pekerja yunior. Diperkirakan gap pengalamannya dari 10-20 tahun.
“Lah trus gimana mengejar pengalaman ini Pakdhe?”
“Inilah yang dikhawatirkan dalam profesi pengeboran, pengalaman merupakan tolok ukur yang sangat penting ketimbang keahlian”
Alam memiliki keunikan untuk tiap-tiap daerah. Kondisi geologi di Delta Mahakam sangat berbeda dengan geologi di Sumatra tengah. Demikian juga teknologi berkembang sangat cepat. Drilling atau pengeboran merupakan aktifitas yang menggabungkan kedua keunikan tersebut. Pengalaman seseorang di derah tertentu dengan teknologi tertentu akan menjadi keahlian yang sangat unik. Pengeboran di laut dalam merupakan teknologi baru.
Tidak semua drilling engineer memiliki pengalaman dalam pengeboran yang mahal ini. Sehingga mendapatkan pengalaman unik ini merupakan “berkah” tersendiri bagi seorang drilling engineer beserta kru-nya. Pengalaman inilah yang sering menjadi kunci dalam penarikan atau pengangkatan pegawai di perminyakan.

Selain itu tentusaja referensi atau network atau lebih tepatnya silaturahmi menjadi salah satu bagian penting dalam proses pengangkatan pegawai. Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya dengan rumus 70-20-10. Artinya: 70% pengalaman; 20% training (networking); 10 % edukasi (pendidikan sekolah). Itulah sebabnya pengalaman menjadi hal yang paling berharga dalam sebuah CV (Curriculum Vittae).
Apa yang perlu dilakukan ?
Dalam eksekutif panel ketika Konferensi AAPG di Capetown, berkumpullah para petinggi dari perusahaan besar (Mario Carminatti, Petrobras executive manager, Christian J. Heine, Saudi Aramco, Rod Nelson, Schlumberger vice president, Jatinda Peters, manager HR for the India’s (ONGC) dan Scott Tinker, AAPG president.
Ada hal yang cukup mengagetkan juga dalam panel ini, terungkap juga ternyata India yang berpenduduk semilyar juga mengalami kesulitan tenaga kerja perminyakan.
“It seems odd. In the world’s moist populous region the biggest problem facing employers is the shortage of (qualified) people”.(The Economist)
Salah satu penyebab yang dikemukakan oleh HR dari India ini adalah ketidak tepatan antara akademiake dengan butuhan industri yang tergambar dibawah ini:
Akhirnya para panelist ini stuju untuk merumuskan strategi yang perlu dilakukan, termasuk diantaranya :
- Menjalin hubungan antara pekerja senior ini dengan sekolah (universitas)
- Memberikan materi/program untuk memperkaya kurikulum
- Menambah beasiswa
- Bekerja dirumah (work at home) Terutama untuk tenaga wanita.
- Sabattian
- Jenjang karier yang lebih jelas
- Mentoring termasuk memanfaatkan mereka yang sudah masuk usia pensiun
- Struktur profesi serta program pengembangan diri.
Nah apa yang sudah kita lakukan hingga saat ini ?
“Kita ? Loe aja kali … gwe enggak “ “Hallah !!”
Dongeng Terkait :
Sekolah:Training:Kerja = 10:20:70
Sekolah:Training:Kerja – 2 (Workplace Politics)
Harga minyak dan pasaran kerja tahun 2009

Kamis, 14 Januari 2010

Parafin Crash

Parafin Crash
Parafin : Komposisi hidrokarbon berat, dengan kandungan lilin didalamnya.
Terjadinya paraffin disebabkan menurunnya teemperatur dan tekanan. Sehingga menimbulkan pengendapan pada oil, dimana viskositas oil semakin meningkat. Terutama bila temperature lingkungan lebih rendah dari temperature crude oil. Titik tuang adalah titik temperature terendah dimana oil masih bisa mengalir.

Tempat2 terjadinya paraffin:
a.Di zona perforasi,
b.tubing,
c.flowline,
d.Separator.


Salah satu contoh parafin (CnH2n+2), iso-butana

Penyebab terjadinya paraffin:
a.Turunnya tekanan,
b.Turunnya temperature,
c.Hilangnya fraksi ringan oil,
d.Aliran yg tdk tetap dan merata,
e.Permukaan dalam pipa yg tdk merata.

Cara mengatasi paraffin:
a.Secara mekanik:
a.Formasi: Hidraulic fracturing
b.Tubing: scrapper, cutter
c.Flowline: Pigging
b.Secara Kimiawi: calcium carbide atau acethylene
c.Kombinasi solvent (kerosene, solar, condensate) dengan dipanaskan (steam stimulation, thermal recovery, heater treater).

http://duniamigas.wordpress.com/2008/08/02/parafin-crash/

DPR Restui Pertamina Ambil Alih Blok Cepu

DPR Restui Pertamina Ambil Alih Blok Cepu

Surabaya (beritajatim.com) - Komisi VII DPR RI dukung PT Pertamina ambil alih Blok Cepu, jika Mobil Cepu Limited (MCL) sebagai operator tidak segera memaksimalkan produksinya.

Sebab hingga saat ini eksploitasi Blok Cepu berjalan lamban, sehingga harus ada terobosan dari pemerintah agar produksi migas di Blok Cepu berjalan dengan cepat.

"Kami dukung jika Pertamina ambil alih sebagai operator Blok Cepu. Sebab hingga saat ini produksi yang dilakukan MCL tidak maksimal. Meskipun demikian, jangan sampai pengambilalihan tersebut melanggar aturan, perjanjian dan perundang-undangan," kata Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Zainuddin Amali saat melakukan kunjungan kerja ke Pemprov Jatim, Senin (14/12/2009).

Menurut dia, kemampuan PT Pertamina sebenarnya tidak kalah dibanding dengan operator migas di dunia. Apalagi pengalaman Pertamina cukup panjang di dunia migas. "Kami juga mempertanyakan mengapa ekploitasi migas di Blok Cepu sangat lamban. Sebelumnya kami mendapatkan laporan bahwa kelambanan tersebut karena faktor pembebasan tanah dan pemasangan pipa. Tetapi anehnya produksi di pusat pengeboran masih sangat rendah," ungkapnya.

Padahal, lanjut dia, jika produksi migas bisa berjalan maksimal, keuntungan bangsa juga semakin besar. Ditambah lagi daerah memiliki sharing keuntungan, karena daerah juga memiliki penyertaan modal 10 persen dalam bentuk Participating Interest (PI).

Tentang usulan Pemprov Jatim, bahwa daerah tidak perlu menyertakan modal melalui PI, tetapi mendapatkan modal otomatis melalui Golden Sharing karena wilayahnya digunakan untuk pengeboran, juga didukung oleh DPR RI. Hanya saja prosesnya harus merevisi UU 22/2001 tentang Migas.

Sebelumnya, Pemprov Jatim mendesak operator pengeboran minyak Blok Cepu segera memaksimalkan produksinya. Sebab lambannya ekploitasi blok minyak terbesar di Jatim itu, justru akan merugikan Pemprov Jatim karena sharing keuntungan dari keikutsertaan modal dalam PI tidak segera didapatkan.

Menurut Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Jatim sudah melakukan investasi melalui PI sejak beberapa tahun lalu. "Kalau Blok Cepu tidak segera beroperasi maksimal, maka sharing keuntungan dari produksi minyak dan gas di Blok Cepu tidak didapatkan," tambah Wagub Saifullah Yusuf usai menerima rombongan Komisi VII DPR RI.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jatim, Dewi J Putriatni menambahkan, produksi migas di Blok Cepu dinilai lamban dan molor dari jadwal yang ditentukan. Sebab ekploitasi minyak di Blok Cepu baru melakukan produksi awal sejak 31 Agustus 2009 lalu dengan rata-rata produksi 2.000 barel/hari.

Jumlah ini sangat minim dibanding target produksi maksimal yang mencapai 165.000 barel minyak/hari. Diperkirakan baru pada awal tahun 2013 mendatang bisa melakukan full produksi 165.000 barel minyak/hari.

Pertamina harus berperan menentukan kebijakan percepatan produksi. Apalagi lapangan minyak Blok Cepu memiliki kandungan minyak dan gas yang sangat besar, diperkirakan cadangan gas sebesar 1,7 triliun kaki kubik dan minyak bumi sebesar 650 juta barel.

Participating Interest Blok Cepu sebesar 10 persen dibagi pada empat daerah yakni Pemkab Blora, Pemkab Bojonegoro, Pemprov Jateng dan Pemprov Jatim. Keempat daerah tersebut juga sudah membentuk empat BUMD yang tergabung dalam Badan Kerja Sama (BKS), yakni PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (Pemprov Jateng), PT Blora Patragas Hulu (Pemkab Blora), PT Petrogas Wira Jatim (Pemprov Jatim), dan PT Asri Dharma Sejahtera (Pemkab Bojonegoro).

Pemerintah telah membagi persentase pendanaan operasional Blok Cepu kepada Pertamina sebesar 50 persen dan ExxonMobil juga 50 persen.

Kedua perusahaan itu selanjutnya berkewajiban memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah yang berada di kawasan Blok Cepu untuk turut serta dalam pengelolaan lapangan migas yakni berupa PI, masing-masing sebesar 5 persen.

Dari 10 persen PI tersebut, Pemprov Jawa Timur mendapatkan sharing 2,24 persen, Pemkab Bojonegoro 4,48 persen, Pemkab Blora 2,18� persen, Pemprov Jateng 1,09 persen.

Biaya eksplorasi yang dituangkan dalam plan of development (PoD) lapangan migas Blok Cepu sekitar Rp 25 triliun. Dengan demikian dana yang harus diserahkan keempat BUMD tersebut sebesar Rp 2,5 triliun.

http://www.beritajatim.com/detailnews.php/1/Ekonomi/2009-12-14/51731

Artificial lift

Artificial lift


Apakah yang dimaksud dengan artificial lift?


Artificial lift adalah metode untuk mengangkat hidrokarbon, umumnya minyak bumi, dari dalam sumur ke atas permukaan. Ini biasanya dikarenakan tekanan reservoirnya tidak cukup tinggi untuk mendorong minyak sampai ke atas ataupun tidak ekonomis jika mengalir secara alamiah.

Artificial lift umumnya terdiri dari lima macam yang digolongkan menurut jenis peralatannya.
Pertama adalah yang disebut subsurface electrical pumping, menggunakan pompa sentrifugal bertingkat yang digerakan oleh motor listrik dan dipasang jauh di dalam sumur.
Yang kedua adalah sistem gas lifting, menginjeksikan gas (umumnya gas alam) ke dalam kolom minyak di dalam sumur sehingga berat minyak menjadi lebih ringan dan lebih mampu mengalir sampai ke permukaan.
Teknik ketiga dengan menggunakan pompa elektrikal-mekanikal yang dipasang di permukaan yang umum disebut sucker rod pumping atau juga beam pump. Menggunakan prinsip katup searah (check valve), pompa ini akan mengangkat fluida formasi ke permukaan. Karena pergerakannya naik turun seperti mengangguk, pompa ini terkenal juga dengan julukan pompa angguk
Metode keempat disebut sistem jet pump. Fluida dipompakan ke dalam sumur bertekanan tinggi lalu disemprotkan lewat nosel ke dalam kolom minyak. Melewati lubang nosel, fluida ini akan bertambah kecepatan dan energi kinetiknya sehingga mampu mendorong minyak sampai ke permukaan
Kelima, sistem yang memakai progressive cavity pump (sejenis dengan mud motor). Pompa dipasang di dalam sumur tetapi motor dipasang di permukaan. Keduanya dihubungkan dengan batang baja yang disebut sucker rod.

http://vladvamphire.wordpress.com/2009/01/

LOGGING

LOGGING

Logging adalah teknik untuk mengambil data-data dari formasi dan lubang sumur dengan menggunakan instrumen khusus. Pekerjaan yang dapat dilakukan meliputi pengukuran data-data properti elektrikal (resistivitas dan konduktivitas pada berbagai frekuensi), data nuklir secara aktif dan pasif, ukuran lubang sumur, pengambilan sampel fluida formasi, pengukuran tekanan formasi, pengambilan material formasi (coring) dari dinding sumur, dsb.

Logging tool (peralatan utama logging, berbentuk pipa pejal berisi alat pengirim dan sensor penerima sinyal) diturunkan ke dalam sumur melalui tali baja berisi kabel listrik ke kedalaman yang diinginkan. Biasanya pengukuran dilakukan pada saat logging tool ini ditarik ke atas. Logging tool akan mengirim sesuatu “sinyal” (gelombang suara, arus listrik, tegangan listrik, medan magnet, partikel nuklir, dsb.) ke dalam formasi lewat dinding sumur. Sinyal tersebut akan dipantulkan oleh berbagai macam material di dalam formasi dan juga material dinding sumur. Pantulan sinyal kemudian ditangkap oleh sensor penerima di dalam logging tool lalu dikonversi menjadi data digital dan ditransmisikan lewat kabel logging ke unit di permukaan. Sinyal digital tersebut lalu diolah oleh seperangkat komputer menjadi berbagai macam grafik dan tabulasi data yang diprint pada continuos paper yang dinamakan log. Kemudian log tersebut akan diintepretasikan dan dievaluasi oleh geologis dan ahli geofisika. Hasilnya sangat penting untuk pengambilan keputusan baik pada saat pemboran ataupun untuk tahap produksi nanti.

Logging-While-Drilling (LWD) adalah pengerjaan logging yang dilakukan bersamaan pada saat membor. Alatnya dipasang di dekat mata bor. Data dikirimkan melalui pulsa tekanan lewat lumpur pemboran ke sensor di permukaan. Setelah diolah lewat serangkaian komputer, hasilnya juga berupa grafik log di atas kertas. LWD berguna untuk memberi informasi formasi (resistivitas, porositas, sonic dan gamma-ray) sedini mungkin pada saat pemboran.

Mud logging adalah pekerjaan mengumpulkan, menganalisis dan merekam semua informasi dari partikel solid, cairan dan gas yang terbawa ke permukaan oleh lumpur pada saat pemboran. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui berbagai parameter pemboran dan formasi sumur yang sedang dibor.

http://vladvamphire.wordpress.com/2009/01/

Drilling ( Pemboran)

Drilling ( Pemboran)

Pemboran dapat dilakukan untuk bermacam-macam tujuan :

Penempatan bahan peledak; pemercontohan (merupakan metoda sampling utama dalam eksplorasi); dalam tahap development : penirisan, test fondasi dan lain-lain; dan dalam tahap eksplotasi untuk penempatan baut batuan & kabel batuan (dalam batubara pemboran lebih banyak dibuat untuk pemasangan baut batuan - bolting daripada untuk peledakan). Jika dihubungkan dengan peledakan, penggunaan terbesar adalah sebagai pemboran produksi.

Komponen Operasi dari Sistem Pemboran

Ada 4 komponen fungsional utama. Fungsi ini dihubungkan dengan penggunaan energi oleh sistem pemboran di dalam melawan batuan dengan cara sebagai berikut :
• Mesin bor, sumber energi adalah penggerak utama, mengkonversikan energi dari bentuk asal (fluida, elektrik, pnuematik, atau penggerak mesin combustion) ke energi mekanik untuk mengfungsikan sistem.
• Batang bor (rod) mengtransmisikan energi dari penggerak utama ke mata bor (bit).
• Mata bor (bit) adalah pengguna energi didalam sistem, menyerang batuan secara makanik untuk melakukan penetrasi.
• Sirkulasi fluida untuk membersihkan lubang bor, mengontrol debu,mendinginkan bit dan kadang-kadang mengstabilkan lubang bor.


Ketiga komponen pertama adalah komponen fisik yang mengontrol proses penetrasi, sedangkan komponen keempat adalah mendukung penetrasi melalui pengangkatan cuttings. Mekanisme penetrasi, dapat dikategorikan kedalam 2 golongan secara mekanik yaitu rotasi dan tumbukan (percussion) atau selanjutnya kombinasi keduanya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi unjuk kerja pemboran :

1. Variabel operasi, mempengaruhi keempat komponen sistem pemboran (drill, rod, bit dan fluid). Variabel dapat dikontrol pada umumnya dan mencakup dua kategori dari faktor-faktor kekuatan pemboran :

(a) tenaga pemboran, energi semburan dan frekuensi, kecepatan putar, daya dorong dan rancangan batang bor dan
(b) sifat-sifat fluida dan laju alirnya.

2. Faktor-faktor lubang bor, meliputi : ukuran, panjang, inklinasi lubang bor; tergantung pada persyaratan dari luar, jad i merupakan variabel bebas. Lubang bor di tambang terbuka pada umumnya 15 - 45 cm (6-18 inch). Sebagai perbandingan, untuk tambang bawah tanah 4-17,5
cm (1,5-7 in.).
3. Faktor-faktor batuan, faktor bebas yang terdiri dari : sifat-sifat batuan, kondisi geologi, keadaan tegangan yang bekerja pada lubang bor yang sering disebut sebagai drillability factors yang menentukan drilling strength dari batuan (kekuatan batuan untuk bertahan terhadap penetrasi) dan membat asi unjuk kerja pemboran.
4. Faktor-faktor pelayanan, yang terdiri dari pekerja dan supervisi, ketersediaan tenaga, tempat kerja, cuaca dan lain-lain, juga merupakan faktor bebas.

Parameter Performansi (Unjuk Kerja)
Untuk memilih dan mengevaluasi sistem pemboran yang optimal, ada 4 parameter yang harus diukur at au dipe rkirakan,yaitu :
1. Energi proses dan konsumsi daya (power)
2. Laju penetrasi
3. Lama penggunaan bit (umur)
4. Biaya (biaya kepemilikan + biaya operasi)


Pemilihan Alat Bor

Pemilihan suatu alat produksi haruslah melalui suatu prosedur yang telah didefinisikan dengan baik. Hal ini merupakan persoalan rancangan rekayasa yang sebenarnya (true engineering design) yang memerlukan suatu pertimbangan harga. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :


1. Mendeterminasi dan menentukan spesifikasi kondisi-kondisi dimana alat bor akan digunakan, seperti faktor-faktor yang berhubungan dengan pekerjaan (pekerja, lokasi, cuaca dan lain-lain) dengan konsiderasi keselamatan kerja.
2. Menetapkan tujuan untuk fase pemecahan batuan dari siklus operasi produksi kedalam tonase, fragmentasi, throw, vibrasi dan lain-lain (mempertimbangkan batasan pemuatan dan pengangkutan, stabilitas kemiringan lereng, kapasitas crusher, kuota produksi, geometri pit,
dll) .
3. Atas dasar pada persyaratan peledakan, merancang pola lubang bor (ukuran dan kedalaman lubang ledak, kemiringan, burden dan spasi).
4. Menentukan faktor drillability untuk jenis batuan yang diantisipasi, mengindentifikasikan metoda pemboran yang mendekati kelayakan .
5. Men-spesifikasikan variabel operasi untuk tiap sistem dibawah pengamatan, meliputi : mesin bor, batang bor, mata bor dan sirkulasi fluida.
6. Memperhitungkan parameter unjuk kerja, termasuk ketersediaan alat, biaya dan perbandingan. Mengamati sumber tenaga dan memilih spesifikasi. Item biaya yang besar adalah mata bor, depresiasi alat bor, tenaga kerja, pemeliharaan, energi dan fluida. Umur bit dan biaya merupakan hal yang kritis namun sulit untuk diproyeksikan.
7. Memilih sistem pemboran yang memuaskan semua persyaratan biaya keseluruhan yang rendah dan memperhatikan keselamatan kerja.

Pemotongan (Cutting)


Jika pemotongan merupakan bagian integral dari siklus produksi, hal itu dilakukan dengan mesin yang dirancang sesuai dengan karakteristik batuan/mineral yang diinginkan. Pada saat ini, pemotongan (cutting) dilakukan pada dua aplikasi utama, yaitu :

1. Batubara dan mineral non-metal yang lebih lunak (tambang bawah tanah); jenisnya : Chain cutting machine, shortwall (fixed bar) atau universal (movable-bar).
2. Batuan dimensi (tambang terbuka)
a. Channeling machine, percussion atau flame jet
b. Saw, wire, atau rotary

Tujuan dari kegiatan cutting adalah menghasilkan “kerf” yang dapat mengurangi atau menge liminir peledakan. Aksi penetrasi dasar dalam pemotongan batuan atau batubara sama dengan pemboran.


Penggalian Mekanik (Mechanical Excavating)

Aplikasi penggalian secara mekanis pada tambang terbuka a.l.:
1. Penggaru (Ripper) Tanah yang sangat kompak, batubara, atau batuan yang lunak
atau telah mengalami pelapukan.
2. Bucket Wheel Excavator (BWE) & cutting-head excavators
Tanah dan batubara.
3. Auger and highw all miners
Batubara
4. Mesin Gali Mangkuk mekanis (MGM - Mechanical dredges)
Endapan aluvial/placer, koral dan tanah (di bawah air). Sebagai perbandingan, penggalian secara mekanis pada tambang bawah tanah dilakukan sebagai berikut :
1. Continous miner dan longwall shearer Batubara atau batuan non-logam yang lunak
2. Boom-type miner (roadheader) dan Tunnel-boring, raise -boring, serta shaft-sinking machine Batuan lunak sampai sedang-keras.

PEMUATAN DAN PENGGALIAN

Penanganan Material (Material Handling)

Semua satuan operasi yang terlihat dalam penggalian atau pemindahan tanah/batuan selama penambangan disebut penanganan material (material handling). Pada siklus operasi, dua operasi utama adalah pemuatan dan transportasi, dan jika transportasi vertikal diperlukan, kerekan (hoisting) akan menjadi operasi opsi ketiga. Penanganan material pada tambang mekanisasi modern berpusat pada peralatan. Skala peralatan pada tambang terbuka semakin bertambah besar. Batas atas ukuran truk meningkat menjadi 300 ton, 170 m3 untuk drag line , 140 m3 untuk shovel dan 8400 m3 untuk bucket wheel excavator.
Pemilihan Alat

Secara garis besar, ada empat faktor yang pemilihan alat ekskavasi (P fileider, 1973 a, Martinetal, 1982 dalam Hartman, 1987), yaitu :

1. Faktor performansi (unjuk kerja)
Faktor ini berhubungan langsung dengan produktifitas mesin, dan meliputi : kecepatan putar, tenaga yang tersedia, jarak penggalian, kapasitas bucket, kecepatan tempuh, dan reliabilitas.
2. Faktor desain
Mencakup kecakapan pekerja, teknologi yang digunakan, jenis pengawasan dan tenaga (power) yang tersedia.
3. Faktor penunjang (Support)
4. Faktor biaya

Pengangkutan

Material dalam jumlah besar dalam industri pertambangan ditransport dengan haulage (pemindahan ke arah horizontal) dan hoisting (pemindahanvertikal)

http://artikelbiboer.blogspot.com/2009/12/drilling-pemboran.html

Teori Organis dan teori Anorganik

Teori Organis dan teori Anorganik


Teori proses pembentukan minyak yang dikenal hingga saat ini ada dua teori besar yaitu teori an-organik dan teori organik. Teori an-organik ini saat ini jarang dipakai dalam eksplorasi migas. Salah satu pengembang teori an organik ini adalah para penganut creationist - atau penganut azas penciptaan. Teori an-organic ini sering juga dikenal abiotik, atau abiogenic.
Proses pembentukan minyakbumi berdasar teori organik


Mungkinbelum ada yang menyangka sebelumnya bahwa secara alami minyak bumi yang ada secara alami ini dibuat oleh alam ini bahan dasarnya dari ganggang. selain ganggang, biota-biota lain yang berupa daun-daunan juga dapat menjadi sumber minyak bumi. Tetapi ganggang merupakan biota terpenting dalam menghasilkan minyak. Namun dalam studi perminyakan diketahui bahwa tumbuh-tumbuhan tingkat tinggi akan lebih banyak menghasilkan gas ketimbang menghasilkan minyak bumi. Hal ini disebabkan karena rangkaian karbonnya juga semakin kompleks.
Setelah ganggang-ganggang ini mati, maka akan teredapkan di dasar cekungan sedimen. Keberadaan ganggang ini bisa juga dilaut maupun di sebuah danau. Jadi ganggang ini bisa saja ganggang air tawar, maupun ganggang air laut. Tentusaja batuan yang mengandung karbon ini bisa batuan hasil pengendapan di danau, di delta, maupun di dasar laut. Batuan yang mengandung banyak karbonnya ini yang disebut Source Rock (batuan Induk) yang kaya mengandung unsur Carbon (high TOC-Total Organic Carbon).

Proses pembentukan carbon dari ganggang menjadi batuan induk ini sangat spesifik. Itulah sebabnya tidak semua cekungan sedimen akan mengandung minyak atau gasbumi. Kalau saja carbon ini teroksidasi maka akan terurai dan bahkan menjadi rantai carbon yang tidak mungkin dimasak.




Proses pengendapan batuan ini berlangsung terus menerus. Kalau saja daerah ini terus tenggelam dan terus ditumpuki oleh batuan-batuan lain diatasnya, maka batuan yang mengandung karbon ini akan terpanaskan. Tentusaja kita tahu bahwa semakin kedalam atau masuk amblas ke bumi, akan bertambah suhunya. Ingat ada gradien geothermal ? (lihat penjelasan tentang pematangan dibawah).
Reservoir (batuan Sarang)
Ketika proses penimbunan ini berlangsung tentusaja banyak jenis batuan yang menimbunnya. Salah satu batuan yang nantinya akan menjadi batuan reservoir atau batuan sarang. Pada prinsipnya segala jenis batuan dapat menjadi batuan sarang, yang penting ada ruang pori-pori didalamnya. Batuan sarang ini dapat berupa batupasir, batugamping bahkan batuan volkanik.

Proses migrasi dan pemerangkapan


Minyak yang dihasilkan oleh batuan induk yang termatangkan ini tentusaja berupa minyak mentah. Walaupun berupa cairan, minyakbumi yang mentah ciri fisiknya berbeda dengan air. Dalam hal ini sifat fisik yang terpenting yaitu berat-jenis dan kekentalan. Ya, walaupun kekentalannya lebih tinggi dari air, namun berat jenis minyakbumi ini lebih kecil. Sehingga harus mengikuti hukum Archimides. Inget kan si jenius yang menurut hikayat lari telanjang ? Sambil berteriak, “Eureka .. eureka !!”. Demikianlah juga dengan minyak yang memiliki BJ lebih rendah dari air ini akhirnya akan cenderung ber”migrasi” keatas.

Ketika minyak tertahan oleh sebuah bentuk batuan yang menyerupai mangkok terbalik, maka minyak ini akan tertangkap atau lebih sering disebut terperangkap dalam sebuah jebakan (trap).
Proses pematangan batuan induk (Source rock)


Untuk sedikit lebih canggih dalam memahami proses pembentukan migas, dongeng berikut ini menjelaskan hanya masalah pematangannya.

Seperti disebutkan diatas bahwa pematangan source rock (batuan induk) ini karena adanya proses pemanasan. Juga diketahui semakin dalam batuan induk akan semakin panas dan akhirnya menghasilkan minyak. Tentunya ada donk hubungan antara kedalaman dengan pematangan ? Ya tentusaja.

Proses pemasakan ini tergantung suhunya dan karena suhu ini tergantung dari besarnya gradien geothermalnya maka setiap daerah tidak sama tingkat kematangannya.

Daerah yang dingin adalah daerah yang gradien geothermalnya rendah, sedangkan daerah yang panas memiliki gradien geothermal tinggi.




Dalam gambar diatas ini terlihat bahwa minyak terbentuk pada suhu antara 50-180 derajat Celsius. Tetapi puncak atau kematangan terbagus akan tercapai bila suhunya mencapai 100 derajat Celsius. Ketika suhu terus bertambah karena cekungan itu semakin turun dalam yang juga diikuti penambahan batuan penimbun, maka suhu tinggi ini akan memasak karbon yang ada menjadi gas!

Cekungan-cekungan sedimen di Indonesia itu tergambar dalam gambar diatas ini.

http://rovicky.wordpress.com/2008/02/21/proses-pembentukan-minyak-bumi

Terbentuknya Minyak Bumi

Terbentuknya Minyak Bumi

Minyak bumi atau gas bumi terdapat dalam pori-pori batuan, terutama batuan sediment. Proses pembentukan minyak bumi belum di ketahui secara pasti. Karena itu usaha dan penelitian terus dilakukan orang untuk mengetahui proses terbentuknya minyak secara ilmiah.

Ada tiga macam teori yang menjelaskan proses terbentuknya minyak dan gas bumi. Teori pertama adalah teori “biogenetic” atau lebih di kenal dengan teori “organik”. Yang kedua adalah teori “anorganik”, sedangkan yang ketiga adalah teori “duplex” yang merupakan perpaduan dari kedua teori sebelumnya. Teori duplex yang banyak di terima oleh kalangan luas menjelaskan bahwa minyak dan gas bumi berasal dari berbagai jenis organisme laut baik hewani maupun nabati.

Di perkirakan bahwa minyak bumi berasal dari materi hewani dan gas bumi berasal dari materi nabati. Yang jelas minyak dan gas bumi terdiri dari senyawa kompleks yang unsur utamanya adalah karbon (C) dan unsur hydrogen (H). secara sederhana senyawa ini dapat ditulis dengan rumus kimia CXHY, sehingga sering di sebut sebagai senyawa hidrokarbon.

Pada zaman purba, di darat dan di laut hidup beraneka ragam binatang dan tumbuh-tumbuhan. Binatang serta tumbuh-tumbuhan yang mati ataupun punah itu akhirnya tertimbun di bawah endapan Lumpur. Endapan Lumpur ini kemudian di hanyutkan oleh arus sungai menuju lautan, bersama bahan organik lainnya dari daratan.

Akibat pengaruh waktu, temperatur tinggi dan tekanan beban lapisan batuan di atasnya binatang serta tumbuh-tumbuhan yang mati tadi berubah menjadi bintik-bintik dan gelembung minyak atau gas.

Akibat pengaruh yang sama, maka endapan Lumpur berubah menjadi batuan sediment. Batuan lunak yang berasal dari Lumpur yang mengandung bintik-bintik minyak dikenal sebagai batuan induk atau “soure rock”. Selanjutnya minyak dan gas ini akan bermigrasi menuju tempet yang bertekanan lebih rendah dan akhirnya terakumulasi di tempat yang di sebut perangkap (trap).

Suatu perangkap dapat mengandung:

§ Minyak, gas, dan air

§ Minyak dan air

§ Gas dan air

Karena perbedaan berat jenis, apabila ketiga-tiganya berada dalam suatu perangkap dan berada dalam keadaan stabil, gas senantiasa berada di atas, minyak di tengah dan air di bagian bawah. Gas yang terdapat bersama-sama minyak bumi di sebut “associated gas” sedangkan yang terdapat sendiri dalam suatu perangkap disebut “non-associated gas”.

Dalam proses pembentukan minyak bumi diperlukan waktu yang masih belum bisa di tentukan sehingga mengenai hal ini masih terdapat pendapat yang berbeda-beda. Ada yang mengataka ribuan tahun, ada yang mengatakan jutaan tahun bahkan ada yang mengatakan lebih dari itu.

http://vheya.wordpress.com/2008/03/08/terbentuknya-minyak-bumi

Peranan dan Manfaat Ekplorasi Hidrokarbon

Peranan dan Manfaat Ekplorasi Hidrokarbon







Hidrokarbon merupakan salah satu sumber daya alam yang mempunyai peranan dapat meningkatkan kemajuan Bangsa Indonesia khususnya pada eksplorasi MIGAS. Manfaat hidrokarbon sangatlah banyak sekali, tapi sayangnya juga banyak efek negatifnya. Kegiatan ekplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi merupakan kegiatan yang sangat penting di dalam dunia industri perminyakan, dimana umumnya setelah kegiatan eksplorasi dilaksanakan dan apabila ditemukan kandungan minyak bumi yang cukup komersial, maka kegiatan itu akan dilanjutkan dengan kegiatan eksplorasi minyak bumi tersebut. Namun kegiatan eksplorasi tidak berhenti melainkan terus berjalan seiring dengan kegiatan eksploitasi yang dilaksanakan dengan harapan dapat dilakukan pengembangan zona hidrokarbon yang lebih luas ataupun kearah yang lebih dalam pada sumur pemboran. Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi ini membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit jumlahnya.



Oleh sebab itu, kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan data yang akurasiya berkualitas tinggi. Disetiap survey bawah permukaan yang nantinya mampu memberikan gambaran-gambaran tentang keadaan dibawah permukaan daerah tersebut. Salah satu data yang dapat diperoleh pada saat kegiatan ini adalah data Well Logging, dimana data ini memberikan hasil rekaman dari kedalaman lapisan bawah permukaan, serta dapat membantu menggambarkan urutan litologi batuan pada setiap lubang bor. Data disajikan dalam bentuk kurva-kurva log yang dapat menggambarkan sifat dan karakteristik batuan yang berada di bawah permukaan (subsurface). Selain itu kurva-kurva ini juga dapat menginformasikan peranan dan manfaat jenis fluida yang terkandung pada batuan itu. Untuk memahami kurva-kurva tersebut, seorang geophysicsist dan geologist dituntut untuk dapat mengungkapkan keberadaan dari Hidrokarbon yang terkurung dibawah permukaan bumi.


Hingga kini belum ada penyelesaiaan lain selain mengebor suatu sumur untuk memastikan ada tidaknya kandungan hidrokarbon dibawah tanah, setiba di lapangan sumur, para operator logging meluruskan letak kendaraan logging segaris dengan sumbu sumur, menggelarkan kabel logging melalui roda katrol bawah dan atas, dan menyambungkan alat alat logging. Insinyur logging melakukan pemeriksaan dan kaliberasi permukaan, kemudian rangkaian logging alat logging diturunkan kedasar sumus secepat mungkin dengan pertimbangan kondisis sumur. Setelah sampai didasar sumur, kalibrasi alat sekali lagi dilakukan, skala skla pembacaan diatur, dan kabel logging mulai ditarik keluar, maka mulailah proses logging. Kecepatan survey diatur konstan antara 1800 s/d 6000ft/hr, tergantung jenis alat logging.


Pada saat mengadakan pemboran dan selama pemboran berlangsung, selalu melibatkan lumpur pemboran yang sering disebut sebagai mud drilling ,yang mempunyai tekanan hidrostatis lebih besar dari pada tekanan formasi pada kedalaman tertentu. Hal ini dipergunakan untuk Menstabilkan tekanan formasi yang ada di bawah permukaan, dimana tekanan lumpur yang ada di dalam annulus (Pm) harus dijaga agar selalu lebih besar dari tekanan hidrostatik cairan di dalam pori-pori formasi (Pr) guna menghindari terjadinya blow out. Blow out ini merupakan salah satu akibat tidak seimbangnya tekanan formasi dengan tekanan lumpur pemboran dimana tekanan formasi (Pr) lebih besar daripada tekanan lumpur pemboran (Pm), sehingga lumpur didesak kembali keluar oleh tekanan formasi yang menyebabkan terjadinya semburan dari dalam lubang bor. Sedangkan jika perbedaan tekanan Pm dan Pr dimana Pm lebih besar daripada Pr yang biasanya beberapa ratus psi, akan mendesak cairan pemboran ke dalam formasi, sehingga partikel-partikel padat lumpur tertahan pada formasi di dinding lubang pemboran dan membentuk kerak lumpur (mud cake) yang mengakibatkan diameter lubang bor lebih kecil daripada diameter sebenarnya (diameter pahat bor). Selain itu sebagai pelumas mata bor, peredam panas saat berlangsungnya pengeboran.


Cairan yang menembus mud cake yang biasanya disebut filtrasi lumpur (mud filtrate) ini, akan melewati formasi dan mendesak kembali cairan reservoir ke arah dalam formasi sehingga membentuk daerah-daerah yang berisi mud filtrate dan cairan reservoir yang dikenal dengan zona rembesan. Tingkat filtrasi lumpur ini dapat dibaca dari catatan air yang hilang (water loss) pada kepala log (log heading) dalam satuan cc. Kemudian Prinsip kerja metoda induksi ini adalah berupa sonde yang terdiri dari 2 set kumparan yang disusun dalam batangan fiberglass non konduktif. Dalam hukum fisika diketahui jika sebuah kumparan dialirkan arus listrik bolak-balik, maka akan timbul suatu arus dalam kumparan tersebut. Arus listrik yang mengalir dalam kumparan alat induksi ini menimbulkan medan magnet di sekelilong sonde yang menghasilkan arus Eddy (Eddy Current). Arus Eddy sendiri pada gilirannya akan menghasilkan medan magnet yang dapat dideteksi oleh kumparan penerima.


Besarnya kekuatan arus pada penerima ini akan sebanding dengan arus Eddy dan juga akan sebanding dengan induktivitas formasi. Pada dasarnya, peranan fungsi arus listrik dapat dengan mudah melewati formasi jika formasi tersebut mengandung fluida dan hidrokarbon yang bersifat konduktif dan memiliki manfaat besar. Apapun permasalahannya, penemuan sumber energi baru baik dari fosil maupun non-fosil dapat segera terselesaikan. Sehingga krisis energi di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya tidak berlarut-larut. Sehingga permasalahan ini tidak akan menghasilkan dampak krisis sosial yang negatif yang mana pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh segi bidang kehidupan termasuk dalam hal pembukaan lowongan cari kerja baru untuk masyarakat.



http://go-kerja.com/peranan-hidrokarbon-dan-global-warming

Masih minimnya eksplorasi minyak dan gas bumi

Palembang (ANTARA News) - Masih minimnya eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia dikarenakan teknologi yang dimiliki kontraktor atau perusahaan migas belum mampu secanggih perusahaan sejenis dari Amerika Serikat atau negara maju lain padahal potensi bahan bakar tersebut sangat besar.

Praktisi perminyakan dari UPN "Veteran" Yogyakarta yang menjadi pemateri pada "Workshop Jurnalistrik Industri Minyak dan Gas Bumi diselenggarakan PT.Medco E&P Indonesia, Hariady mengatakan, karena teknologi yang dimiliki perusahaan migas di Indonesia masih minim kini potensi minyak atau gas belum bisa dieksplorasi.

Padahal terdapat 85 cekungan minyak dan baru 15 cekungan yang telah diproduksi dan produksi migas pun masih sekitar 60 persen sisanya samasekali belum dieksplorasi, katanya, dihadapan puluhan wartawan media cetak dan elektronik di Palembang, Sabtu.

Menurut dia, sebanyak 15 cekungan minyak yang telah diproduksi tersebut telah berlangsung seratus tahun lebih dan sampai ini masih sekita 40 persen yang belum dieksplorasi.

"Keterbatasan teknologi menjadi salah satu kendala eksplorasi sehingga produksi pun masih terbatas," tambahnya.

Ia mengatakan, sampai kini kita belum menemukan teknologi yang sebanding dengan teknologi Amerika Serikat dimana mereka hanya dengan bantuan satelit saja mampu mendeteksi keberadaan migas baik di darat maupun di perairan.

Sedangkan perusahaan kita masih mencari migas secara manual dengan memanfaatkan tenaga ahli geologi yang secara bergerilya mendatangi cekungan-cekungan yang telah dipetakan dan kemudian meneliti lantas memastikan ada tidaknya kandungan minyak yang dicari, katanya.

Dia menambahkan, kondisi tersebut tentunya membutuhkan waktu lama yang bisa mencapai 10 tahun untuk sebuah proyek eksplorasi dan pengeboran baru memproduksi bahan bakar tersebut.

Dengan kondisi tersebut sudah sepatutnya bangsa ini menghemat energi karena bahan bakar tersebut sulit diproduksi karena teknologi belum mendukung, ujarnya.

Sementara itu, pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan PT.Medco E&P Indonesia berhasil mencerahkan peserta yang tidak satupun berlatar belakang pendidikan pertambangan atau perminyakan.

"Setidaknya dengan pelatihan ini kami bisa mengerti bagaimana proses minyak tersebut bisa menjadi bahan bakar karena ternyata membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk bisa menjadi satu liter minyak," kata Rusmaya salah satu peserta.

Kegiatan tersebut menjadi bekal untuk wartawan ketika meracik berita tentang migas untuk dipublikasikan sesuai dengan pengetahuan yang mereka peroleh dari pelatihan tersebut.

Sehingga tidak salah-salah lagi dalam menyebutkan atau menulis istilah tentang migas dan yang pasti analogi disampaikan pemateri sulitnya menghasilkan minyak mendorong kesadaran untuk berhemat bahan bakar, tambahnya.

http://cafepojok.com/forum/showthread.php?t=30702

MALUKU ENERGI EKPLOITASI BLOK GAS MARSELA

MALUKU ENERGI EKPLOITASI BLOK GAS MARSELA
Rabu, 28 Oktober 2009

Ambon - Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT. Maluku Energi bekerja sama dengan Perusahaan minyak Jepang PT. Impeks akan melakukan kegiatan ekploitasi minyak dan gas alam blok Marsela di perbatasan Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) dan Maluku Barat Daya (MBD).

"Dalam kedudukannya PT. Maluku Energi memiliki saham 10 persen sementara 90 persen adalah saham Impeks," kata Direktur Utama PT Maluku Energi Semuel Samson, di Ambon, Selasa.

Dia mengakui, perushaaan Jepang itu telah mendapatkan persetujuan Pemerintah untuk mengelola minyak dan gas blok Marsela secara komersial, baik ekplorasi maupun eksploitasi.

Menurutnya, mengawali kegiatan eksploitasi kedua perusahaan tersebut bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan Pemerintah Pusat (Pempus), ESDM dan BP Migas akan melakukan pembahasan analisa dampak lingkungan (amdal) awal November mendatang.

"Diharapkan proyek ini ramah lingkungan dan bermanfaaat bagi masyarakat setempat," ujarnya.

Menurutnya, kehadiran perusahaan di Kabupaten yang berbatasan dengan dua negara tetangga yakni Timor Leste dan Australia itu, secara ekonomi bermanfaat bagi peningkatan hidup masyarakat terutama membuka terbuka lapangan kerja dengan menyerap banyak tenaga kerja terutama dari sejumlah kabupaten diantaranya MTB, MBD, Maluku Tenggara serta Maluku pada umumnya.

"Ada perluasan lapangan pekerjaan karena melibatkan putra putri Maluku yang dampaknya menurunkan angka pengangguran sekaligus peningkatan ekonomi masyarakat," katanya.

Pengelolaan gas pada Blok Marsela, ujar Samson tidak dilakukan di laut tetapi di darat guna mengurangi mengurangi beban biaya serta dampak kerusakan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

"Kita akan melakukan kajian apakah pengolahannya bisa dilakukan di Pulau Yamdena dan Babar atau tidak," katanya.

Ia optimis suksesnya investasi Blok Marsela tersebut, akan membuka peluang bagi para investor yang lain untuk menanamkan modalnya sehingga berdampak meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Maluku di masa mendatang.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Maluku Bram Tomasoa mengatakan, kandungan migas yang ada di blok Marsela berdasarkan hasil penelitian dan eksplorasi yang dilakukan Impeks sejak 1998 hingga 2008, mencapai 12 triliun cubic feet (TCF).

Perusahaan ini akan menangani eksploitasi dan produksi migas Blok Marsela selama 30 tahun hingga 2028, dan akan dimulai 2010 di mana kegiatan produksinya baru akan berlangsung 2016 mendatang.

Tomasoa juga menyetujui pengelolaan minyak dan gas dilakukan di darat karena selain mengurangi biaya juga memberikan manfaat besar bagi masyarakat setempat.

Gubernur Ralahalu secara terpisah mengatakan BUMD yang baru dibentuk itu harus bermitra dengan pihak ketiga karena tidak memiliki dana sebesar Rp10 triliun yang akan dijadikan modal investasi pada pengelolaan mega proyek migas itu, apalagi sesuai ketentuan dana itu tidak boleh dikeluarkan dari APBN maupun APBD.

"Modal tidak bisa diambil dari APBN maupun APBD sehingga perlu kerja sama dengan pihak ketiga," ujar Ralahalu.

Dia optimistis kegiatan ekploitasi mega proyek itu akan memberikan kontribusi positif bagi daerah karena selain terbuka kesempatan menyerap kerja yang besar, juga berdampak pada perbaikan ekonomi masyarakat di daerah ini.

http://www.lebihcepat.com/ekonomi/36-ekonomi/7296-maluku-energi-ekploitasi-blok-gas-marsela.html

Fajar Penambangan Laut Dalam

Fajar Penambangan Laut Dalam

Kita sedang berada di tepi era penambangan laut dalam, kata pionir global dalam studi deposit mineral dasar laut. Dr. Steven Scott, seorang geologis di University of Toronto, Toronto, Kanada mengatakan peningkatan dalam geologi laut dan teknologi laut dalam telah digabungkan agar realistis untuk lebih dari 2 km di bawah laut untuk emas dan mineral lainnya.

Ini adalah sebuah transformasi yang katanya telah menimbulkan reaksi "knee-jerk" atas kemungkinan dampak lingkungan dari pertambangan, yang diyakini lebih tidak merusak dibandingkan dengan penambangan terrestrial.

Saat ini, perusahaan pertambangan laut neophyte pertama di dunia, Nautilus Minerals dan Neptune Minerals secara aktif mengeksplorasi kemungkinan penambangan deposit dasar laut dalam. Neptune menilai deposit yang haknya dimiliki di laut territorial di pantai utara North Island, New Zealand. Nautilus dan rekan joint venture-nya Placer Dome, sebuah perusahaan emas Kanada, mengumpulkan sampel dari deposit di Laut Bismarck, pantai timur Papua New Guinea.

Pertanyaan besar untuk perusahaan ini adalah potensi ekonomis dari deposit bawah laut sulfida polimetalik. Bijih dasar laut yang kaya akan sulfur ini diproduksi di seluruh dunia dalam wilayah vulkanik bawah laut oleh "black smokers." Black smokers dibentuk ketika air laut meresap kedalam dasar laut yang berpori, dipanaskan dan muncul kembali melalui lubang membawa mineral terlarut. Ketika air panas menyentuh air dasar laut yang dingin, mineral mengendap, membentuk menara seperti cerobong yang disebut black smokers. Dalam beberapa waktu, menara ini runtuh dan berakumulasi dalam bentuk deposit, beberapa diantaranya kaya akan emas, perak, tembaga, timbal dan seng.

Dr. Scott merupakan geologis pertambangan yang pertama mengeksplorasi black smokers. Pada tahun 1982 dia bergabung menjadi anggota Scripps Institute of Oceanography and the Woods Hole Oceanographic Institution di submersible Alvin untuk mengeksplorasi black smokers yang baru ditemukan pada 2.000 m dibawah gelombang di Teluk California, pantai Mexico. Katanya setelah lebih dari dua dekade mendukung kemungkinan menambang deposit yang diciptakan oleh black smokers, peluncuran kerjasama merupakan gerakan yang diperlukan perusahaan pertambangan untuk melintasi batas psikologis laut.

"Dua puluh tahun yang lalu, sebagian besar perusahaan pertambangan tidak ingin mendengar kemungkinan ini. Menurut mereka ini terlalu sulit. Tapi sekarang beberapa diantaranya melihat lebih mudah turun melalui beberapa ribu meter di bawah air daripada water beberapa ribu meter batuan," menurut Dr. Scott, yang merupakan Direktur Scotiabank Marine Geology Research Laboratory dan Norman B. Keevil Professor dari Ore Genesis di University of Toronto.

Sekarang, pertambangan bawah laut terdalam – tambang intan di pantai Afrika bagian selatan – berada dibawah hanya beberapa ratus meter air. Dr. Scott menunjukkan industri migas lepas pantai sebagai contoh untuk perubahan. Industri migas internasional pergi ke lepas pantai mulai pertengahan 1940-an. Hari ini, sekitar sepertiga minyak dunia datang dari bawah laut. Banyak sumur produksi di kedalaman 1.500 m di pantai Brazil, dan pengeboran pada kedalaman 2.500 m di Teluk Mexico.

Tantangan utama untuk perusahaan pertambangan laut baru adalah pembangunan teknologi untuk mengekstrak bijih dari kedalaman laut, kata Dr. Scott. Dia melihat penggunaan "mesin robot penambang batubara versi bawah laut" dengan bijih dialirkan ke kapal tambang , atau platform semi-submersible sebagaimana digunakan oleh industri minyak lepas pantai. Dia menunjukkan bahwa robot laut dalam merupakan industri yang matang, didorong oleh kebutuhan perolehan dan eksplorasi minyak lepas pantai.

Teknologi penambangan laut dalam memberikan awal yang baru, menurut Dr. Scott, dengan hampir $ 650 juta pengeluaran internasional dalam usaha yang gagal untuk membangun teknologi penambangan nodul mangan dasar laut pada tahun 1970-an dan '80-an. Nodul mangan, seringkali kaya akan nikel dan tembaga, dibentuk oleh pengendapan lambat mineral dari air laut. Nodul meliputi area yang luas di dasar laut dalam yang dikenal sebagai abyssal plains.

Dr. Scott awalnya menggambarkan black smokers sebagai jalan memahami formasi yang sama dengan deposit sulpfida polimetalik terrestrial, seperti yang ditambang di pertambangan tembaga dan seng Creek di Ontario utara, Kanada, dan di banyak negara lain di dunia, termasuk US.

"Kami ingin mengetahui apakah geologi laut menyimpan petunjuk adanya deposit terrestrial. Dan memang begitu adanya," kata Dr. Scott.

Sekarang mereka menjadi "laboratorium hidup" untuk memahami formasi deposit sulfida polimetalik laut dan terrestrial. Salah satu mahasiswa postdoctoral Dr. Scott telah kembali dari vessel yang mengebor klaim Nautilus di pantai Papua New Guinea. Dia mengeksplorasi peran bakteri dalam menciptakan deposit mineral ini.

"Mengambil sampel dari interior deposit sangat langka," kata Dr. Scott. "Apa yang kami membuat kami tertarik dari perspektif ilmu murni adalah mikroorganisme apa yang ada dalam deposit dan apa yang mereka lakukan. Apakah mereka menyebabkan mineralisasi?"

Berkaca pada dampak lingkungan dari potensi penambangan dasar laut, Dr. Scott mengatakan dia yakin akan tidak banyak merusak dibandingkan penambangan terrestrial.

"Perusahaan pertambangan laut akan memiliki masalah lingkungan seperti pada proses industri lain," kata Dr. Scott. "Dipahami akan akan menjadi perhatian publik."

Menurut Dr. Scott, penambangan dasar laut menghindari banyak masalah yang terkait dengan penambangan terrestrial. Tidak ada drainase asam, karena asam ternetralkan oleh alkalinitas air lauit. Deposit sulfida berada di dasar laut, sehingga tidak akan ada penggalian dan limbah dari batuan, dan tidak ada struktur permanen yang tersisa. Pertambangan juga tidak akan menyentuh black smokers yang aktif, wilayah yang diketahui memiliki keragaman alam bawah laut.

Dan sementara dia melihat potensi ekonomi, Dr. Scott juga telah mengarah pada perlindungan black smokers. Dia adalah seorang geologis dalam tim keilmuan dan memelopori taman laut dalam pertama di dunia, segmen Endeavour dari black smokers sepanjang bawah laut Pasifik Juan de Fuca Ridge, pantai barat Kanada.
http://www.migas-indonesia.com/index.php?module=article&sub=article&act=view&id=1426

PENGERUKAN

Pengerukan (Bahasa Inggris: Dredging) berasal dari kata dasar keruk (dredge), menurut kamus berarti proses, cara, perbuatan mengeruk.[1] Sedangkan definisi pengerukan menurut Asosiasi Internasional Perusahaan Pengerukan adalah mengambil tanah atau material dari lokasi di dasar air, biasanya perairan dangkal seperti danau, sungai, muara ataupun laut dangkal, dan memindahkan atau membuangnya ke lokasi lain.

Untuk melakukan pengerukan biasanya digunakan kapal keruk yang memiliki alat-alat khusus sesuai dengan kondisi di areal yang akan dikeruk, seperti:
Kondisi dasar air (berbatu, pasir, dll)
Areal yang akan dikeruk (sungai, danau, muara, laut dangkal, dll.)
Peraturan atau hal-hal yang diminta oleh pemerintah lokal ataupun oleh pihak yang meminta dilakukan pengerukan
Daftar isi :
1 Tahapan pengerukan
2 Jenis-jenis pengerukan
2.1 Capital dredging
2.2 Maintenance dredging
2.3 Environmental dredging
3 Lihat pula
4 Referensi
5 Pranala luar
5.1 Perusahaan pengerukan
5.2 Asosiasi pengerukan
5.3 Pembuat kapal keruk


Tahapan pengerukan

Pengerukan utamanya terdiri dari 3 tahap
Memisahkan dan mengambil material dari dasar air dengan menggunakan
Pengikisan (erosion)
Memancarkan air tekanan tinggi (jetting)
Memotong (cutting)
Menghisap (suction)
Memecah (breaking)
Mengambil dengan menggunakan bucket (grabbing)
Mengangkut material dengan menggunakan
Tongkang (barges)
Tongkang atau kapal yang didesain secara khusus memiliki wadah penampung (hoppers)
pipa terapung / floating pipeline
conveyor-belt
Truk
Pembuangan material tersebut dengan menggunakan:
Pembuangan pipa (pipeline discharge)
Alat angkat seperti crane
Membuka pintu di bawah pada beberapa kapal atau tongkang yang didesain secara khusus (hopper barges)

Jenis-jenis pengerukan

Capital dredging

Pengerukan ini dilakukan untuk membuat:
pelabuhan baru, termasuk alur pelayarannya. Melebarkan dan atau mendalami pelabuhan / terusan / sungai yang sudah ada.
Proyek reklamasi.
Hal-hal lainnya yang terkait dengan pertambangan.

Alat yang biasa digunakan adalah cutter-suction dredger.

Pengerukan ini dilakukan untuk hal-hal berikut
Navigasi
Infrastruktur
Rekayasa pantai / Coastal Engineering
salah satunya adalah beach nourishment yaitu menambang pasir di lepas-pantai dan ditempatkan di pantai untuk mengganti pasir yang tererosi oleh badai atau ombak. Hal ini dilakukan untuk melindungi fungsi dari pantai dan rekreasi.
Industri pertambangan
Pengerukan mineral
Memindahkan permukaan tanah yang digali / overburden
Reklamasi bekas tambang
Industri pertambangan lepas-pantai.
Pembuatan parit untuk pipa bawah laut
Menyiapkan lokasi pengeboran lepas-pantai
Menstabilkan platform lepas-pantai
Melindungi pipa bawah laut

Maintenance dredging

Maintenance Dredging oleh Trailing Suction Hopper Dredger

Dilakukan untuk memelihara dan melindungi fungsi-fungsi dari suatu subyek berkenaan dengan:
aspek-aspek pelayaran / nautical aspects
perlindungan tanah / pantai
nilai-nilai lingkungan

Dalam hal ini aspek-aspek pelayaran menyangkut alur pelayaran, terkait dengan fungsi ekonomi misalnya (bila pelabuhan dangkal maka kapal tidak dapat merapat), serta faktor-faktor alam lainnya seperti sedimentasi dll. Jenis kapal yang sering digunakan adalah trailing suction hopper dredge.

Environmental dredging

Pengerukan dengan alasan untuk memperbaiki lingkungan dari suatu lokasi perairan. Termasuk dalam hal ini adalah memindahkan tanah atau sedimen yang terkena polusi.


Kapal keruk

Referensi
^ Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1994. ISBN 979-407-182-X.

Perusahaan pengerukan

Perusahaan yang ditandai # diklaim merupakan perusahaan pengerukan terbesar di dunia.
PT. Pengerukan Indonesia
Van Oord Dredging #
Royal Boskalis Westminster nv #
Jan de Nul #
Dredging International #
Dredging Corporation of India Limited
Bean Dredging
Great Lakes Dredge and Dock Co.
Smithbridge Guam Dredging
[sunting]
Asosiasi pengerukan
International Association of Dredging Companies
World Organisation of Dredging Associations
Central Dredging Association
Eastern Dredging Association
Western Dredging Association
[sunting]
Pembuat kapal keruk
IHC Holland
Damen Dredging Equipment
Assemblers
Dredging Supply Company
Ellicott Dredging
Georgia Iron Works
SRS Crisafulli, Inc.
Twinkle Co
UDL Dredging
VOSTA LMG
Dredging Specialists
http://www.clydesite.co.uk/clydebuilt/dredgers.asp merupakan daftar kapal keruk yang dibuat oleh Clyde.

http://www.migas-indonesia.com/index.php?module=article&sub=article&act=view&id=1426

Minggu, 10 Januari 2010

Amblesnya Drilling Rig dan Tenggelamnya Kapal Pemboran

Amblesnya Drilling Rig dan Tenggelamnya Kapal Pemboran

Mungkin ada yg bertanya-tanya bagaiman sebuah drilling rig amblas masuk kedalam bumi. Padahal sepertinya kaki-kaki drilling rig tsb sudah menaRata Tengahpak kuat pada tiang pancang dsb. Berikut foto-foto yg saya peroleh dari milist Migas-Indonesia (trims Mas Budi). Sekalian saya berikan sedikit penjelasan grafis bagaimana hal ini bisa terjadi.

Proses pengeboran diawali dengan mengebor bagian atas, “upacara” ini sering disebut dengan Spud atau Tajak. Pada saat tajak ini tentunya proses pengeboran masih sangat awal. Karena biasanya batuan paling atas itu seringkali tidak begitu keras, karena lapisan muda atau karena berupa batu yg sudah lapuk. Sehingga seringkali BOP belum dipasang. Dan casing atau selubung yang sudah dipasang-pun seringkali tidak disemen.

Dengan keterbatasan konstruksi sumur pada waktu awal ini tentusaja ada risiko-risiko yg harus ditanggung, misalnya gas-gas dangkal (shallow gas).

Berikut sebuah seri foto-foto tersebut. Tidak ada informasi lokasi pengeborannya tetapi kalau dilihat tanggalnya peristiwa ini terjadi bulan February 2006.





Foto 1. Tanggal 16 Februari 2006.
Disini memperlihatkan bahwa anjungan yang sudah ambruk. Terlihat drillfloor (lantai pengeboran) yg relatif bersih, saya rasa tidak terjadi semburan lumpur keatas. Tidak ada lumpur yang menyembur seperti yang terjadi di Banjarpanji-1 Sidoarjo



Foto 2. tanggal 18 Februari 2006. Gambar ini menunjukkan kepala sumur (well head) yg masih utuh. Sepertinya memang tidak ada yg menyembur melalui lubang sumur itu sendiri. Mirip seperti di Sidoarjo dimana kepala sumurnya sendiri aman, namun terjadi semburan diluar lubang sumur.



Foto 3. Tanggal 19 Februari 2006. Drillfloor sudah tidak terlihat lagi, terlihat menaranya sudah ambruk dan sangat kotor. Diperkirakan terjadi semburan lumpur (air bercampur tanah).



Foto 4 dan 5. Hampir semua peralatan pengeboran amblas tenggelam kedalam tanah. Hanya terlihat kepala sumur yg sekarang sudah sangat kotor akibat semburan lumpur. Biasanya lokasi ini akan selalu ditutup karena membahayakan.

Mengapa “Drilling Rig”nya bisa ambles ?

Karena adanya semburan lewat kiri kanan lubang sumur, biasanya melewati ruang annulus (ruang antara dinding sumur dengan casing). Seperti yg disebut diatas karena masih dangkal ruang ini tidak disemen dan menjadikan ruang paling rawan dan paling lemah menahan tekanan. seburan dari bawah tidak dapat masuk ke lubang sumur akibat adanya lumpur pemboran.

Semburan yg berlangsung terus menerus ini akan mempengaruhi daya dukung tanah (bearing capacity). Karena daya dukungnya berkurang ini yang menyebabkan rig amblas tenggelam. Tanah dibawah karena bercampur dengan gas dan juga air, maka kan berubah menjadi lumpur yang sangat lunak.

Peristiwa amblesnya rig ini hanya berlangsung dalam 3-5 hari saja. Sehingga cukup cepat terjadinya. Mungkin bisa dibayangkan bahwa Drilling Rig yg dipergunakan mengebor sumur Banjarpanji-1 tentunya juga ketakutan mengalami hal ini. Sehingga terburu-buru dipindahkan. Tentunya harus disadari bahwa kehilangan perangkat pemboran (drilling rig) sudah merupakan bagian dari risiko mencari minyak.

Apabila kejadiannya si Laut, kejadian bahaya akan tenggelamnya fasilitas pemboran termasuk Drill Ship. Drill Ship (anjungan pengeboran dalam sebuah kapal) juga sangat mungkin tenggelam akibat semburan liar ini. Drillship adalah anjungan pengeboran sumur dalam (Deepwater Drilling Rig). Seperti yg terlihat dibawah ini sebuah Rig yg tenggelam akibat semburan gas.

Akibat adanya gas yg tercampur dengan air maka densitas dari air akan jauh berkurang. Dan kalau anda masih ingat hukum Arhimedes maka daya angkat air ini menjadi hilang atau berkurang akibat campuran gas. Arhimedes bilang bahwa daya angkat akan berbanding lurus atau sebanding dengan masaa benda cair yg dipindahkan. Massa ini tergantung dari berat jenisnya. Nah kalau air dicampur gas tentunya berat jenisnya sangat kecil dan daya angkatnya juga kecil. Hilangnya daya angkat inilah yg menyebabkan sebuah Drillship juga dapat tenggelam akibat semburan liar.









http://www.infogue.com/viewstory/2008/10/15/amblesnya_drilling_rig_dan_tenggelamnya_kapal_pemboran/?url=http://rovicky.wordpress.com/2006/09/16/amblesnya-drilling-rig-dan-tenggelamnya-kapal-pemboran/#comment-21792

Seismik Tiga Dimensi dalam Ekplorasi Energi Geothermal

Seismik Tiga Dimensi dalam Ekplorasi Energi Geothermal
Leave a reply »

Sumber energi alternatif untuk menggantikan minyak bumi terus dicari. Energi geothermal atau panas bumi dianggap berpotensi cukup besar. Namun pemboran sumber geothermal amat sulit dan beresiko tinggi.


Jerman merupakan salah satu negara terkemuka di bidang teknologi untuk eksplorasi dan eksploitasi energi alternatif ini. Sumber panas bumi tersebar dalam kawasan cukup luas dan tidak akan habis dieksploitasi. Hanya saja muncul masalah, pemboran sumber geothermal amat sulit dan berrisiko tinggi karena morfologi di bawah permukaan sulit dikenali. Kini Jerman sedang mengembangkan metode pencitraan seismik tiga dimensi untuk mengetahui morfologi di perut bumi lebih akurat lagi.

Sebuah kendaraan khusus berwarna putih dengan panjang 10 meter dan dilengkapi ban berukuran raksasa bergerak perlahan diikuti konvoi sejumlah pekerja. Kendaraan khusus

itu setiap jarak 30 meter berhenti untuk menumbukkan peralatan hidraulik, menciptakan gempa bumi mikro. Setiap kali berhenti, peralatan hidraulik menciptakan gempa mikro sebanyak delapan kali.


Selama empat minggu konvoi kendaraan pembuat gempa seismik mikro itu bertugas di kawasan Ottobrun dekat München. Di kawasan seluas 20 kilometer persegi, pada ribuan titik di permukaan tanah dibuat rekayasa gempa seismik mikro. Tujuannya adalah untuk mengukur morfologi kawasan Karst Malm di antara sungai Donau dan pinggiran pegunungan Alpina. Karst adalah formasi morfologi atau topografi yang terbentuk di permukaan atau di perut bumi akibat tergerusnya batuan kapuran oleh air yang mengandung asam. Kawasan antara Donau dan pinggiran Alpina merupakan sumber geothermal terpenting di negara bagian Bayern.


Metode pengukuran dengan cara seismik yang dilakukan saat ini jauh lebih akurat dibanding metode yang dikembangkan sebelumnya. Pakar geofisika dari Institut Leibniz untuk geofisika terapan di Hannover, Dr. Ewald Lüschen menjelaskan, “Kami mencoba meneliti formasi Karst Malm, yang memiliki kedalaman antara 3200 sampai 3800 meter, serinci mungkin dalam bentuk tiga dimensi. Karst Malm mengandung air dengan suhu kira-kira 130 derajat Celsius, dan merupakan sumber penting bagi energi geothermal.“


Untuk meneropong bagaimana morfologi di kedalaman lebih dari tiga kilometer itu, para ilmuwan memanfaatkan apa yang disebut metode seismik tiga dimensi. Prinsipnya mirip echolot, yakni penala gelombang suara pada kelelawar, yang juga mampu memberikan gambaran tiga dimensi. Gelombang tekanan yang dibangkitkan kendaraan khusus itu pada lapisan tanah akan dipantulkan oleh lapisan batuan yang berbeda-beda di bawah permukaan bumi. Pantulannya akan dikembalikan ke permukaan bumi beberapa saat kemudian.


Di beberapa lokasi di permukaan bumi peralatan penala getaran khusus yang amat peka, yang disebut geophone, mengukur gelombang pantulan getaran mikro tersebut. Dengan mengukur, berapa lama rambatan gelombangnya akan dapat diketahui, pada kedalaman berapa posisi lapisan-lapisan batuan bersangkutan. Akan tetapi untuk membuat sebuah gambaran tiga dimensi dari morfologi di bawah permukaan bumi, harus dilakukan pengukuran serempak oleh penala khusus tersebut.


Pengukurannya benar-benar merupakana tugas berat. Di kawasan potensi geothermal seluas empat kali lima kilometer itu dibagi menjadi 2.900 lokasi gempa mikro. Di setiap lokasi getaran dipasang selusin geophone ukuran kecil.“Kami memasang jalur geophone dalam jarak 300 meter, sepanjang jalur ini setiap 30 meter dibangun sebuah stasiun geophone,“ jelas Waldemar Lukas, pimpinan tim pengukuran getaran seismik dari perusahaan DMT Essen.


Semua data yang ditangkap stasiun geophone itu, disalurkan ke sebuah kendaraan yang menghimpin secara terpusat semua data hasil pengukuran. Rekam data yang dikumpulkan dari berbagai stasiun pengukuran geophone itu bagi orang awam samasekali tidak menarik. Citranya jika dicetak hanya menunjukkan gambaran garis-garis terang dan gelap yang silih berganti. Dalam beberapa bulan mendatang, para peneliti dari Institut Leibniz untuk geofisika terapan di Hannover akan terus mengolah data ini menggunakan bantuan komputer. Hasil akhirnya adalah citra tiga dimensi morfologi di kawasan penelitian pada kedalaman sekitar 3000 meter di bawah permukaan bumi.


Dalam citra komputer itu, kemudian juga akan ditambahkan data hasil penelitian lainnya, misalnya bagaimana sifat sumber geothermal berupa aliran air panas di bawah permukaan bumi itu? Dengan memanfaatkan citra tiga dimensi morfologi di bawah permukaan bumi itu, para insinyur juga dapat menghitung efektivitas pembangkitan energinya. Juga dapat dihitung, berapa jarak optimal antar lubang pemboran, agar sumber panas bumi itu dapat dimanfaatkan secara intensif.


Dr.Ewald Lüschen menggambarkan metode pengukurannya, “Jika kita memompa air ke dalam lubang bor, tapi tidak dapat menangkap panas secukupnya ketika kita memompanya lagi keluar, berarti tingkat ekonomisnya rendah.“


Untuk mencegah terjadinya inefisiensi semacam itu, citra morfologi di bawah permukaan dalam bentuk tiga dimensi akan memainkan peranan amat besar. Saat ini di Jerman sedang dilakukan penelitian potensi panas bumi di 10 lokasi. Di sebagian lokasi, bahkan sudah dilakukan pembangunan pembangkit energi panas bumi. Seluruhnya di Jerman sudah 26 lokasi pembangkit energi panas bumi yang dioperasikan dengan kapasitas keseluruhan sekitar 128 megawatt. Selain membangkitkan listrik, energi geothermal ini dimanfaatkan untuk pemanasan rumah-rumah pada saat musim dingin.


http://latep.students-blog.undip.ac.id/2009/11/04/seismik-tiga-dimensi-dalam-ekplorasi-energi-geothermal/

Pertambangan Mineral di Indonesia Prospektif

MINERAL

Pertambangan Mineral di Indonesia Prospektif

Mempertimbangkan kekayaan bahan tambang di Indonesia seperti emas, perak, nikel, tembaga dan bahan tambang lainnya, dan dengan upah tenaga kerja murah serta letak geografi yang dekat dengan pasar, membuat pertambangan mineral di Indonesia sangat prospektif. Investasi asing diperlukan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja dan mengurangi jumlah penduduk miskin, demikian menurut Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association, Priyo Pribadi Soemarno dalam acara “Indonesia Mining Session” di Vancouver, Kanada, beberapa pekan lalu.

Tampil pula sebagai pembicara dalam acara tersebut, Konjen RI di Vancouver, Jhon Proust (CEO, Southern Arc Minerals), Thomas Mulja (Country Manager Indonesia, East Asia Minerals), Ramon Yazon (Komisaris Perdagangan dari Kedutaan Besar Kanada di Manila), dan kalangan pengusaha.

Kegiatan pertambangan ilegal, peraturan pajak yang dinilai kurang supportive serta lemahnya kordinasi antara pusat dan daerah merupakan sebagian masalah yang dihadapi industri pertambangan, kondisi seperti ini menyebabkan arus investasi yang masuk ke Indonesia kurang optimal.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki iklim investasi dengan menyederhanakan proses perijinan, transparansi, keringanan pajak, penegakan hukum dan pemantapan situasi keamanan.

Perbaikan iklim investasi yang dilakukan oleh pemerintah, ditanggapi positif beberapa kalangan pengusaha yang hadir dalam acara tersebut. Perbaikan yang dilakukan pemerintah Indonesia akan memulihkan iklim investasi. Apabila best practice dalam industri dan investasi diterapkan bukan mustahil akan menempatkan posisi Indonesia menjadi yang pertama dari delapan negara yang dinilai favourable terhadap investasi asing.


http://www.esdm.go.id/berita/mineral/43-mineral/1609-pertambangan-mineral-di-indonesia-prospektif.html

Keppel Fels dan PV Nama Pemboran Twin RIGS

Keppel Fels dan PV Nama Pemboran Twin RIGS



Untuk pertama kalinya dalam sejarah rig, dua rig jackup identik telah dinamai bersama-sama oleh Keppel Fels Limited (Keppel Fels) dan PetroVietnam pelanggan Bor & Well Services Corp (PV Drilling).

Penamaan dari si kembar, PV PV Drilling Pemboran II dan III, disaksikan oleh Menteri Senior Negara (SMS) untuk Perdagangan & Industri dan Pendidikan, Mr S Iswaran di Keppel Fels hari ini. Kedua rig ini dibangun untuk milik Keppel Kelas B KFELS desain, yang merupakan pilihan cerdas rig pengeboran untuk operator di seluruh dunia.

Baik di jalur untuk pengiriman awal tahun ini, PV PV Drilling Pemboran II dan III, akan menambah hitungan saat ini KFELS B Kelas 28 unit yang telah memasuki pasar luar negeri global sejak tahun 2000.

SMS Iswaran berkata, "penyelesaian awal dan pengiriman PV Drilling II dan III lain menandai tonggak penting dalam memperdalam hubungan antara kedua negara. Ini akan menempatkan klaster maritim Singapura di manfaat yang baik untuk mendukung pertumbuhan Vietnam sektor minyak dan gas.

"Hari ini penamaan dari kembar rig sekali lagi menggarisbawahi kekuatan dan kemampuan Keppel dan Singapura lepas pantai laut dan industri. Galangan kapal kami telah lama membangun reputasi yang kuat kualitas dan ketepatan waktu. Mereka juga menjadi terkenal karena kemampuan mereka untuk menawarkan layanan khusus dan menangani proyek-proyek canggih. "

Diperkirakan bahwa akan ada 900 sumur eksplorasi di Vietnam selama 15 tahun ke depan. Untuk memenuhi jadwal yang ketat eksplorasi, PV Bor berniat membuat investasi modal sekitar $ 1.7b dari sekarang sampai 2025 untuk membangun dan mengoperasikan sebuah 11-kuat armada rig lepas pantai dan daratan.

Mr Do Van Khanh, CEO PV Drilling dan Ketua PVD Invest berkata, "Kami ingin memposisikan diri untuk menangkap Vietnam yang pertumbuhan pasar untuk minyak dan gas jasa dengan dukungan yang kuat dan dapat diandalkan galangan kapal yang dapat memberikan proyek-proyek tepat waktu, anggaran dan tanpa insiden.

"Kami sangat senang dengan kerja yang sangat baik telah dilakukan Keppel Fels di PV PV Drilling Pemboran II dan III. Setelah bekerja dengan mereka di beberapa proyek penting, kami yakin bahwa mereka adalah orang-orang terbaik untuk membantu kami membangun armada rig yang sangat khusus. "

Mr Tong Chong Heong, CEO Keppel Offshore & Marine (Keppel O & M), mengatakan, "Kami sangat antusias untuk menandai Keppel dan Vietnam's seperempat abad kemitraan dengan penamaan historis dua rig untuk jackup PV Drilling.

"Tingkat efisiensi teknik dan konstruksi telah dicapai pada rig kembar karena kita pengalaman yang kaya dalam membangun KFELS ulangi jackups Kelas B, dan kerja tim yang sangat baik dengan pelanggan kami. Kami terhormat bahwa PV Bor Fels Keppel telah memilih waktu dan lagi untuk proyek-proyek bersejarah mereka. "

Kelas B yang KFELS rig adalah dapat beroperasi di kedalaman air dari 400 ft dengan kedalaman pengeboran Multifungsi dari 30.000 ft PV Drilling III telah ditingkatkan lebih lanjut dengan fitur seperti mesin yang memenuhi standar emisi yang lebih ketat dan kentang lebih rendah dapat bantalan tekanan untuk operasi di daerah dengan kondisi tanah lunak.

Dirancang untuk uptime maksimum dengan pengurangan emisi dan pembuangan, yang KFELS B Class rig baru-baru ini memenangkan penghargaan bergengsi Engineering Achievement Award 2009 dari Institution of Engineers Singapura untuk fitur-fitur ramah lingkungan.

Keppel Fels telah terlibat dalam pasar lepas pantai Vietnam selama 25 tahun telah menyelesaikan Hoang Sa, yang 1.200 ton derek mengambang pada tahun 1984 dan Vietnam rig jackup pertama, si Tam Dao I pada 1988. Baru-baru ini, pada tahun 2007, itu pertama disampaikan Vietnam KFELS Kelas B jackup, PV Drilling saya, lebih cepat dari jadwal dan anggaran untuk PV Drilling.

http://sites.google.com/site/pelautgroup/berita-pelaut